
Samarinda – Masalah sampah di Kota Samarinda terus menjadi sorotan karena belum tertangani secara menyeluruh. Meski pengelolaan di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) terus diupayakan, namun sejumlah pihak menilai langkah itu belum menyentuh akar persoalan yang sebenarnya.
Anggota Komisi III DPRD Samarinda, Andriansyah, menegaskan bahwa pendekatan penanganan sampah harus dimulai dari sumbernya langsung, yaitu rumah tangga dan lingkungan terdekat masyarakat.
“Selama fokus melakukan penanganan masih di hilir, maka masalah sampah akan terus berulang,” terangnya, Senin (28/7/2025).
Keluhan dari masyarakat, katanya, masih sering muncul, meskipun Pemkot Samarinda telah melakukan berbagai upaya untuk mengatasi persoalan ini. Ia menilai, perubahan pola pikir dan perilaku warga adalah kunci penting yang belum sepenuhnya digarap secara sistematis.
Untuk itu, dirinya bersama para anggota dewan lain dan komunitas lingkungan aktif turun langsung ke lapangan. Edukasi tentang pemilahan sampah dari rumah terus digalakkan agar masyarakat bisa memahami pentingnya memilah sampah sejak awal.
Langkah konkret seperti sosialisasi ke permukiman, dialog bersama warga, hingga demonstrasi cara memilah sampah sudah sering dilakukan. Upaya ini diyakini akan memperkuat kesadaran kolektif dan mempercepat perubahan kebiasaan masyarakat.
Selain edukasi, ia juga menyoroti pentingnya dukungan kebijakan dan anggaran yang berpihak pada pengelolaan sampah berbasis masyarakat.
Dalam hal ini, ia mengapresiasi langkah Wali Kota Samarinda yang mengalokasikan sebagian anggaran Program Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat (Probebaya) untuk kegiatan lingkungan.
Menurutnya, dukungan anggaran semacam itu membuktikan bahwa pemerintah memahami pentingnya peran masyarakat dalam menyelesaikan persoalan sampah. Dana tersebut memungkinkan warga terlibat lebih aktif melalui kegiatan bersih lingkungan, pengadaan tempat pemilahan, hingga pelatihan daur ulang.
“Komitmen anggaran untuk kegiatan berbasis warga ini harus terus dipertahankan dan ditingkatkan. Karena tanpa partisipasi masyarakat, pengelolaan sampah hanya akan jadi pekerjaan tanpa ujung,” tutup Andriansyah. (Adv)





