
Jakarta, Kaltimedia.com – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang dilaporkan menembus kisaran Rp18.000 per dolar AS mulai menimbulkan kekhawatiran di berbagai kalangan, termasuk pelaku industri musik nasional.
Musisi senior Bimo Setiawan Almachzumi atau Bimbim Slank menilai kenaikan dolar memberikan dampak langsung terhadap aktivitas bermusik karena sebagian besar perlengkapan dan kebutuhan alat musik masih bergantung pada produk impor.
“Iya, stick, senar, apa lagi? Dolar naik kita kena apa? Semua! Itu barang impor semua,” ujar Bimbim di Markas Potlot, Jakarta Selatan.
Menurut pendiri grup musik Slank tersebut, kenaikan nilai dolar membuat biaya operasional musisi ikut meningkat. Berbagai perlengkapan pendukung pertunjukan maupun produksi musik masih mengandalkan produk luar negeri yang harganya mengikuti pergerakan mata uang AS.
“Kami terdampak karena alat musik dan kebutuhan sehari-hari kayak senar atau stik drum itu masih impor. Jadi ya, jujur saja, kita menjerit kalau dolar naik setinggi ini,” tambahnya.
Industri Musik Ikut Tertekan
Tidak hanya berdampak pada pembelian alat musik, pelemahan rupiah juga berpotensi meningkatkan biaya produksi konser, rekaman, hingga perawatan peralatan yang sebagian besar menggunakan komponen impor.
Bimbim bahkan menyinggung pentingnya menjaga stabilitas sosial dan ruang berekspresi masyarakat di tengah kondisi ekonomi yang penuh tekanan.
“Hari ini, selama seni, budaya, lagu, dan kebebasan berekspresi enggak dibungkam, aku rasa masih bisa menenangkan masyarakat. Tapi kalau dilarang, dibungkam, sementara ekonomi sulit, itu mungkin bisa meledak,” tegasnya.
Hindia Khawatir Dampak ke Masyarakat
Kekhawatiran serupa juga disampaikan musisi generasi muda Baskara Putra atau Hindia. Melalui akun media sosial X, Baskara mengaku mulai merasakan dampak kenaikan harga berbagai kebutuhan akibat melemahnya nilai tukar rupiah.
Meski mengaku memiliki kondisi ekonomi yang relatif stabil sebagai musisi, ia menilai tekanan harga kini semakin terasa dalam kehidupan sehari-hari.
“Gue cukup pede untuk bilang bahwa gue ‘mampu’. Ada privilege dari pekerjaan gue sebagai musisi yang—Puji Tuhan—berhasil dan uangnya lebih dari cukup. Tapi akhir-akhir ini, gue merasa terdampak banget dengan kenaikan harga barang karena rupiah melemah,” tulis Baskara.
Menurutnya, dampak pelemahan rupiah tidak hanya dirasakan pada sektor hiburan atau alat musik, tetapi juga mulai memengaruhi harga kebutuhan pokok dan pengeluaran rumah tangga.
“Kalau gue aja terdampak, gue enggak kebayang kalian bakal gimana. Serem. Ini bukan cuma soal alat musik yang patokannya USD, tapi pengeluaran buat makan dan hal-hal esensial lainnya meningkat tajam dibanding kemarin,” ungkapnya.
Kekhawatiran terhadap Daya Beli
Pernyataan kedua musisi tersebut mencerminkan kekhawatiran yang lebih luas terkait daya beli masyarakat di tengah tekanan ekonomi dan pelemahan nilai tukar rupiah.
Kenaikan harga barang impor, biaya logistik, hingga kebutuhan sehari-hari dinilai berpotensi memberikan dampak berantai terhadap berbagai sektor, termasuk industri kreatif yang selama ini masih bergantung pada peralatan dan teknologi dari luar negeri.
Para pelaku industri berharap stabilitas ekonomi dapat terus dijaga sehingga aktivitas produksi, pertunjukan seni, dan kebutuhan masyarakat tidak semakin terbebani oleh kenaikan biaya akibat fluktuasi nilai tukar. (Ang)



