
Balikpapan, Kaltimedia.com — Industri perhotelan di Balikpapan masih menghadapi tantangan berat sepanjang 2026. Persaingan memperebutkan tingkat hunian kamar semakin ketat, terutama pada hotel berbintang tinggi yang terdampak penurunan perjalanan dinas dan kebijakan efisiensi anggaran.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Soegianto, mengatakan hotel kategori bintang 4 dan 5 kini mengalami tekanan cukup besar dalam menjaga tingkat okupansi tetap stabil.
“Untuk hotel premium sekarang mencapai okupansi 50 persen saja sudah tergolong lumayan. Situasinya memang belum mudah,” katanya, Selasa (26/5/2026).
Menurutnya, kondisi berbeda justru terlihat pada hotel kelas menengah. Hotel bintang 2 dan 3 dinilai masih mampu mempertahankan pasar dengan tingkat hunian yang relatif stabil dibandingkan hotel premium.
Soegianto menyebut okupansi hotel kelas menengah masih berada di kisaran 50 hingga lebih dari 60 persen karena lebih fleksibel dalam menyasar wisatawan maupun kebutuhan perjalanan bisnis skala menengah.
Ia menilai perlambatan industri perhotelan di Balikpapan tidak lepas dari kebijakan penghematan anggaran yang berdampak pada menurunnya kegiatan instansi pemerintah dan perjalanan dinas.
Dampak kondisi tersebut mulai dirasakan sejumlah pelaku usaha hotel melalui penyesuaian operasional, termasuk pengurangan jam kerja karyawan untuk menekan biaya operasional.
“Sudah ada hotel yang melakukan penyesuaian jam kerja akibat dampak efisiensi,” ujarnya.
Meski demikian, PHRI berharap kondisi tersebut tidak sampai memicu pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor perhotelan. Menurutnya, stabilitas tenaga kerja tetap harus menjadi perhatian utama di tengah tekanan industri.
Di sisi lain, persaingan antarhotel diperkirakan semakin ketat seiring upaya masing-masing pengelola mempertahankan pelanggan. Namun, PHRI menilai tidak diperlukan aturan khusus untuk membatasi persaingan usaha hotel di Balikpapan.
Soegianto menegaskan setiap hotel memiliki strategi tersendiri dalam menarik pasar, namun kualitas pelayanan tetap menjadi faktor utama untuk bertahan di tengah perlambatan industri.
“Sekarang yang paling penting adalah bagaimana hotel meningkatkan pelayanan kepada tamu,” tutupnya. (Pcm)
Editor: Ang



