
Samarinda, Kaltimedia.com – Aksi demonstrasi puluhan mahasiswa yang tergabung dalam Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia di Samarinda berujung ricuh pada Kamis (9/4/2026) sore.
Unjuk rasa yang berlangsung di depan Kantor Gubernur Kalimantan Timur itu memanas setelah massa aksi merusak pagar dan mencoba masuk ke area kantor. Insiden tersebut menyebabkan tiga mahasiswi dilaporkan pingsan akibat sesak napas.
Ketua PC PMII Samarinda, Taufikudin, menegaskan aksi tersebut merupakan bentuk penolakan terhadap rencana renovasi rumah jabatan gubernur yang dinilai menghabiskan anggaran besar, mencapai Rp25 miliar.
“Kami menolak kebijakan tersebut. Anggaran seharusnya diprioritaskan untuk kebutuhan masyarakat seperti jalan, pendidikan, dan kesehatan,” ujar Taufikudin.
Menurutnya, kebijakan tersebut tidak mencerminkan keberpihakan kepada masyarakat, terutama di tengah berbagai persoalan daerah yang belum terselesaikan.
Selain isu renovasi rumah jabatan, mahasiswa juga menyuarakan berbagai tuntutan lain. Mulai dari persoalan lubang tambang, kondisi infrastruktur jalan, utang daerah, hingga harga bahan bakar minyak (BBM).
Massa juga mendesak evaluasi terhadap kinerja Organisasi Perangkat Daerah (OPD) yang dinilai belum maksimal dalam menjalankan tugasnya.
Kericuhan terjadi saat massa mencoba merangsek masuk dengan menarik pagar kantor gubernur. Aksi dorong-dorongan pun tidak terhindarkan.
Kabid Trantibum Satpol PP Kaltim, Edwin Noviansyah Rachim, membenarkan adanya kerusakan fasilitas akibat insiden tersebut.
Ia menyebut pihaknya telah menawarkan mediasi dengan dinas terkait, namun ditolak oleh massa aksi.
“Mereka tidak mau difasilitasi, mereka minta bertemu langsung dengan gubernur,” ujarnya.
Saat aksi berlangsung, Gubernur dan Wakil Gubernur Kalimantan Timur diketahui sedang berada di luar daerah sehingga tidak dapat menemui massa.
Meski sempat menyebabkan kemacetan di sekitar lokasi dan memicu ketegangan, aparat keamanan memastikan situasi kembali kondusif setelah massa membubarkan diri dengan pengawalan ketat. (Ang)





