
Samarinda, Kaltimedia.com – Pemerintah Kota Samarinda bersiap mengoperasikan insinerator generasi ketujuh produksi Wisanggeni sebagai bagian dari upaya penanganan sampah harian. Teknologi ini diklaim lebih ramah lingkungan karena tidak menggunakan bahan bakar tambahan dan memiliki sistem pengendalian emisi yang lebih ketat.
Sebanyak 10 unit insinerator direncanakan terpasang di sembilan lokasi berbeda. Hingga saat ini, enam unit telah terpasang dengan progres keseluruhan mencapai sekitar 85 persen. Pekerjaan yang tersisa meliputi instalasi kelistrikan serta tahapan uji coba operasional.
Insinerator Wisanggeni mengadopsi prinsip “sampah membakar sampah”, sehingga tidak memerlukan bahan bakar seperti solar maupun gas. Meski demikian, tidak semua jenis sampah dapat diolah dengan mesin ini.
Sebelum masuk ke ruang bakar, sampah harus melalui proses pemilahan. Sampah organik basah, material keras seperti kaca dan kaleng, serta limbah B3 seperti baterai tidak diperbolehkan masuk. Jenis sampah yang paling efektif dibakar adalah sampah padat kering, seperti plastik, kertas, dan kayu.
Proses pembakaran diawali dengan pembentukan bara dari bagian bawah ruang bakar. Setelah suhu mencapai sekitar 400 derajat Celsius, sampah dimasukkan secara bertahap. Dalam kondisi optimal, suhu pembakaran dapat meningkat hingga 1.000 derajat Celsius, dengan waktu pemanasan awal sekitar 30 hingga 60 menit.
Koordinator Lapangan instalasi insinerator, Arfan, menjelaskan bahwa setelah suhu stabil, proses pembakaran dapat berlangsung secara berkelanjutan selama jam operasional.
“Pembakaran di sini menggunakan sistem sampah membakar sampah. Sampah yang telah terbakar menjadi bara dan kemudian membakar sampah lainnya,” ujarnya.
Salah satu keunggulan insinerator generasi ketujuh ini terletak pada sistem pengendalian emisi. Asap hasil pembakaran tidak langsung dilepas ke udara, melainkan disedot melalui saluran khusus menuju Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL).
Di IPAL, asap dicuci menggunakan sistem filtrasi berlapis sebelum dilepaskan ke lingkungan. Fasilitas ini dilengkapi tiga lapisan filter, termasuk ijuk dan silika, untuk menyaring polutan padat. Filter ijuk diganti sekitar satu kali dalam sebulan dan dapat dikeringkan serta dimanfaatkan kembali dalam proses pembakaran, sehingga tidak menimbulkan limbah baru.
Hasil akhir pembakaran berupa residu abu juga tidak langsung dibuang. Residu tersebut berpotensi diolah kembali menjadi produk bernilai guna, seperti paving block, batako, hingga pupuk, melalui proses lanjutan. Praktik pemanfaatan residu serupa telah diterapkan di sejumlah daerah, termasuk Kota Bandung.
Satu unit insinerator Wisanggeni memiliki kapasitas pembakaran sekitar 8 hingga 10 ton sampah per hari dengan waktu operasi rata-rata delapan jam. Namun, kapasitas tersebut sangat bergantung pada keterampilan operator karena proses pengumpanan sampah masih dilakukan secara manual.
Saat ini, fokus pekerjaan diarahkan pada penyelesaian instalasi kelistrikan dan uji coba menyeluruh. Jika seluruh tahapan berjalan sesuai rencana, insinerator generasi ketujuh ini diharapkan segera beroperasi dan menjadi salah satu penopang utama pengelolaan sampah di Kota Samarinda.
“Untuk pemasangan satu mesin, idealnya membutuhkan waktu sekitar dua hingga tiga minggu, di luar pengerjaan fisik bangunan dan pendukung lainnya,” pungkas Arfan. (Rfh)
Editor: Ang



