3 Hari Jalan Kaki, 31 Warga Linge Bertaruh Nyawa Keluar dari Daerah Terisolir Banjir-Longsor

Gambar saat ini: Foto: 3 Hari Jalan Kaki, 31 Warga Linge Bertaruh Nyawa Keluar dari Daerah Terisolir Banjir-Longsor. Sumber: Istimewa.
Foto: 3 Hari Jalan Kaki, 31 Warga Linge Bertaruh Nyawa Keluar dari Daerah Terisolir Banjir-Longsor. Sumber: Istimewa.

Banda Aceh, Kaltimedia.com — Wahyu Majiah (27), warga Banda Aceh, tak pernah menyangka perjalanan singkat untuk menghadiri Festival Linge berubah menjadi perjuangan hidup-mati. Ia bersama sekitar 30 rekannya harus berjalan kaki selama tiga hari menembus hutan, sungai, dan tumpukan material longsor demi keluar dari Kecamatan Linge, Kabupaten Aceh Tengah, salah satu wilayah terparah terdampak banjir dan longsor.

“Dari Desa Linge kami jalan kaki menyusuri tebing, gunung, sungai yang longsor biar bisa ke Isaq itu 3 hari. Dari Isaq kami lanjut ke Takengon naik mobil,” kata Wahyu Majiah atau Ayu, Kamis (5/12) di Banda Aceh.

Padahal dalam kondisi normal, perjalanan Linge–Isaq hanya 50 menit menggunakan mobil, atau sekitar 1,5 jam menuju Takengon. Namun, setelah bencana besar melanda, seluruh jalur penghubung hancur total.

Awal Kejadian: Festival Berubah Jadi Kepungan Bencana

Ayu dan rombongannya tiba di Desa Linge pada Senin (24/11) saat cuaca mulai diguyur hujan. Tidak ada pertanda apa pun bahwa wilayah itu akan porak-poranda.

Selasa (25/11), mereka sempat keluar mencari sinyal internet di sebuah jembatan akses masuk desa. Keesokan harinya, kabar longsor dan banjir mulai terdengar. Namun tragedi sesungguhnya baru mereka saksikan pada Kamis (27/11) pagi.

“Kami balik lagi ke jembatan untuk lihat kondisi, ternyata jembatannya sudah putus total, jalan tertutup longsor,” ujarnya.

Malam itu, ratusan warga dievakuasi ke SMA 13 Takengon yang dianggap masih aman. Dua hari mereka bertahan di tempat itu sebelum muncul kabar bahwa satu-satunya cara keluar dari Linge adalah dengan berjalan kaki menuju Isaq.

Perjalanan Ekstrem 3 Hari: Lumpur Sepinggang dan Hutan Runtuh

Sabtu (29/11), rombongan memulai perjalanan berat itu. Dengan bekal sangat terbatas, beras seadanya dari warga dan air genangan yang mereka masak, mereka melintasi jalur penuh bahaya.

“Material kayu, lumpur dalamnya nyaris sepinggang kami lewati. Kami ketemu longsor besar dan sempat terhenti lama,” kata Ayu.

Mereka menempuh jalur:

  • Desa Linge
  • Desa Owaq
  • Desa Uning
  • Kemukiman Isaq

Total waktu tempuh: 3 hari berjalan kaki tanpa henti, sebelum akhirnya tiba di Isaq pada Senin (1/12). Dari sana, mereka menaiki mobil menuju Takengon.

Dua hari berada di Takengon, Ayu dan rombongan akhirnya diangkut menggunakan pesawat bantuan di Bandara Rembele untuk kembali ke Banda Aceh.

“Aceh Tengah Hancur”: Jalan Putus, Rumah Tertimbun, Jembatan Hilang

Ayu menggambarkan kondisi Aceh Tengah sebagai “daerah yang hancur total”.

  • Jalan-jalan terputus
  • Rumah-rumah tertimbun
  • Jembatan hilang tersapu banjir
  • Tidak ada sinyal telekomunikasi
  • Aliran listrik padam

“Banyak gunung-gunung yang longsor. Rumah warga tertimbun semua. Jalan rusak di mana-mana,” tuturnya.

Data Terbaru: 23 Meninggal, 24 Hilang, 10 Ribu Mengungsi

Posko Tanggap Darurat Aceh (Jumat, 5/12) mencatat:

  • 23 jiwa meninggal dunia
  • 24 orang hilang
  • 10.153 jiwa mengungsi di 108 titik
  • 81 titik jalan rusak
  • 58 jembatan putus
  • 2.546 rumah rusak

Kabupaten Aceh Tengah kini disebut sebagai episentrum dampak bencana di wilayah tersebut. (Ang)

Share

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *