Sekolah di Aceh Tamiang Masih Tertatih Pascabanjir, Siswa Belajar di Kelas Rusak dan Minim Fasilitas

Foto: Para pelajar di SMPN 1 Kuala Simpang sedang belajar tanpa kursi dan meja. Sumber: Istimewa.
Foto: Para pelajar di SMPN 1 Kuala Simpang sedang belajar tanpa kursi dan meja. Sumber: Istimewa.

Aceh Tamiang, Kaltimedia.com – Aktivitas belajar mengajar di Kuala Simpang, Kabupaten Aceh Tamiang, belum sepenuhnya pulih setelah bencana ekologis yang melanda wilayah tersebut pada akhir 2025. Hingga April 2026, sejumlah sekolah masih menghadapi keterbatasan fasilitas yang cukup serius.

Di SMP Negeri 1 Kuala Simpang, kondisi ruang kelas masih jauh dari layak. Sejumlah ruangan tidak memiliki meja dan kursi, bahkan sebagian siswa terpaksa belajar dengan duduk langsung di lantai yang berdebu.

Selain itu, fasilitas dasar seperti listrik, kipas angin, hingga tirai juga belum sepenuhnya tersedia. Kondisi ini membuat proses belajar menjadi kurang nyaman, terutama saat cuaca panas atau mendung.

Jejak banjir masih tampak jelas di berbagai sudut sekolah. Dinding dan pagar dipenuhi bekas lumpur, sementara halaman sekolah masih menyisakan debu dari endapan banjir yang telah mengering.

Tak hanya di lingkungan sekolah, akses menuju lokasi juga masih terdampak. Tumpukan lumpur di sepanjang jalan menimbulkan debu yang berpotensi mengganggu pernapasan dan jarak pandang.

Kuala Simpang sendiri merupakan salah satu wilayah dengan dampak banjir dan longsor terparah di Aceh. Saat bencana terjadi, banyak bangunan di sekitar Sungai Tamiang rusak bahkan hanyut terbawa arus.

Fatir (15), siswa kelas 3 SMPN 1 Kuala Simpang, mengungkapkan bahwa kegiatan belajar sempat terhenti dan baru kembali berjalan secara bertahap.

“Belajarnya belum, cuma duduk-duduk. Terus, kelasnya juga digabung-gabungin,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa pada awalnya pembelajaran dipindahkan ke musala sekolah dengan sistem pembagian jadwal per kelas. Kegiatan tersebut berlangsung hingga Februari 2026.

Meski kini sudah kembali ke ruang kelas, kondisi belum sepenuhnya normal. Banyak siswa masih harus belajar di lantai tanpa alas yang memadai.

“Kurang nyaman kalau duduk di bawah gini, kurang nyaman. Baju kami aja kayak gini (kotor) pulang-pulang,” tambahnya.

Selain itu, sejumlah fasilitas juga dilaporkan hilang pascabencana, termasuk kipas angin di ruang kelas.

“Kipas anginnya hilang di sini, hilang dicuri. Enggak tahu siapa yang ambil,” katanya.

Keterbatasan fasilitas juga diperparah dengan belum stabilnya aliran listrik di sekolah. Akibatnya, siswa tidak dapat menggunakan penerangan saat kondisi gelap.

“Ini lampunya enggak nyala, emang listrik belum [menyala],” ujar Fatir.

Meski dalam kondisi terbatas, para siswa tetap berupaya mengikuti kegiatan belajar.

“Tapi mending sekolah daripada enggak sekolah,” ungkapnya.

Kondisi serupa juga dialami siswa di tingkat sekolah dasar. Putri Thalitha Salsabila (11), siswa kelas 5 SD Negeri 2 Kuala Simpang, mengaku masih menggunakan pakaian bantuan karena kehilangan seragam saat banjir.

“Kalau aku ini belum punya seragam, ini [pakaian] dikasi [dari bantuan],” ucapnya.

Ia juga harus belajar bersama siswa dari kelas lain karena banyak ruang kelas yang rusak.

“Sekarang masih bareng [dengan kelas lain saat pembelajaran], kalau itu [papan tulis] belum ada,” katanya.

Hal serupa disampaikan Siti Balqis (11), siswa SD Negeri Kota Lintang.

“Iya, maunya punya yang baru [seragam],” ujarnya.

Kondisi ini menunjukkan bahwa pemulihan sektor pendidikan pascabencana masih membutuhkan perhatian serius. Selain perbaikan infrastruktur, dukungan fasilitas dasar dan perlengkapan siswa menjadi kebutuhan mendesak.

Tanpa percepatan penanganan, kualitas proses belajar mengajar berpotensi terus terganggu, terutama bagi siswa di wilayah terdampak paling parah. (Ang)

Share

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *