Pemkot Balikpapan Minta Perusahaan Lawan Stunting Lewat Program CSR

LAWAN STUNTING – Ilustrasi. Pemerintah Kota Balikpapan terus memperkuat upaya percepatan penurunan stunting melalui gerakan “Orang Tua Asuh Cegah Stunting” di Kota Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur.  

BALIKPAPAN – Pemerintah Kota Balikpapan terus memperkuat upaya percepatan penurunan stunting melalui gerakan “Orang Tua Asuh Cegah Stunting” di Kota Balikpapan, Provinsi Kalimantan Timur.  

Salah satu langkah strategis yang kini digencarkan adalah pelibatan perusahaan dan pelaku usaha melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) atau Corporate Social Responsibility (CSR).

Gerakan ini menargetkan setiap perusahaan dapat menjadi pendamping bagi “3B” yakni balita, bayi dua tahun (Baduta) dan ibu menyusui (Busui). 

Dengan dukungan dunia usaha, Pemkot berharap penurunan stunting dapat berjalan lebih cepat, merata, dan tepat sasaran.

“Kita sedang mendorong perusahaan dan pelaku usaha untuk mendukung pemerintah melalui program TJSL atau CSR. Targetnya, satu perusahaan dapat mendampingi tiga sasaran yaitu Balita, Baduta, dan Busui,” demikian penjelasan Pemkot Balikpapan via press rilis, Senin (17/11/2025).

Langkah ini sejalan dengan strategi nasional yang menekankan pemenuhan gizi pada 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) sebagai fase paling krusial dalam mencegah stunting.

Pemkot Balikpapan menilai keberhasilan program membutuhkan sinergi lintas sektor, tidak bisa hanya mengandalkan pemerintah.

Pelaksana Tugas (Plt.) Kepala DP3AKB Balikpapan, Nursyamsiarni D. Larose, menjelaskan bahwa edukasi kepada masyarakat menjadi bagian penting dalam pencegahan stunting.

Ia menegaskan bahwa stunting bukan sekadar masalah tinggi badan, tetapi kegagalan tumbuh akibat kekurangan gizi kronis yang berdampak pada perkembangan otak.

Dia memaparkan bahwa Keluarga Berencana (KB) berperan besar dalam mencegah stunting melalui konsep “4 Terlalu”. Pertama, terlalu Muda, kehamilan di usia remaja (di bawah 21 tahun) berisiko karena tubuh ibu belum siap dan masih membutuhkan nutrisi yang besar.

Kedua, terlalu dekat, jarak ideal antar kehamilan minimal 3 tahun agar ibu pulih secara nutrisi dan siap kembali hamil.

Ketiga, terlalu banyak, dimana jumlah anak harus disesuaikan kemampuan keluarga. Dengan fokus pada satu atau dua anak, pemenuhan gizi 1.000 HPK lebih optimal.

Keempat, terlalu tua. Kehamilan di atas usia 35 tahun meningkatkan risiko kesehatan pada ibu dan bayi.

Nursyamsiarni menegaskan bahwa edukasi KB dan dukungan lingkungan menjadi pondasi keberhasilan pencegahan stunting.

Pemkot berharap seluruh perusahaan di Balikpapan dapat berperan aktif dalam gerakan ini demi menciptakan generasi yang sehat dan berkualitas.

“Cegah stunting, wujudkan generasi emas,” katanya. (adv/pry)

Share

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *