
Balikpapan, Kaltimedia.com – Cahaya keemasan di sore hari memantulkan kepada anak dan ibu yang sedang bersantai di selasar rumah. Ratna yang merupakan seorang ibu rumah tangga, melihat penuh dengan harapan kepada semata wayangnya Bima.
Dalam hati Ratna, ada satu pertanyaan sederhana yang sering muncul namun menggetarkan jiwanya. “Apakah bima tetap bisa sekolah, jika suatu hari aku tak lagi bisa bekerja?”.
Sebuah pertanyaan untuk diri sendiri yang menjadi ketakutan Ratna maupun jutaan masyarakat di Indonesia, mengenai kehidupan dalam ketidakpastian. Sakit, kecelakaan, maupun musibah bisa datang kapan saja. Jika tidak memiliki Tabungan darurat, satu peristiwa dapat meruntuhkan recana hidup.
Sayangnya, banyak dari kita masih melihat asuransi sebagai suatu hal yang ribet, mahal, bahkan dipandang “pengeluaran lebih”. Kendati demikian, proses itu membuahkan hasil, sudut pandang itu mulai memudar. Indonesia Financial Group (IFG), holding BUMN di budang asuransi, penjamin, dan investasi mengambil langkah besar dalam perubahan untuk masyarakat Indonesia.
Literasi Membuka Hati
IFG sangat paham sekali akan perubahan dari pengetahuan. Sehingga mereka menempatkan literasi sebagai tiang utama. Layaknya menebar benih, mereka menyebarkan kader bertalenta dan berkualitas untuk memberikan pemahaman kepada masyarakat kita akan pentingnya asuransi sebagai jaminan di masa depan.
Berbagai kelas literasi pun diselenggarakan oleh IFG, mendatangi kampus-kampus untuk berdiskusi dengan mahasiswa, sosialisasi di komunitas pekerja transportasi daring, hingga menyusun formula khusus bagi kelompok difabel, seperti driver tunarungu.
Dengan pendekatan sederhana, membuat masyarakat dapat memahami mengapa asuransi sangat penting, bukan hanya ap aitu asuransi tetapi, sebuah harapan dan kunci emas terhadap kekhawatiran Ibu Ratna maupun para orang tua Indonesia lainnya.
Berdasarkan hasil penelitian dari IFG Progress, adanya sebuah kesenjangan terhadap literasi asuransi di Indonesia telah meningkat, tetapi tingkat inklusi, jumlah peserta yang benar-benar memiliki polis, masih jauh tertinggal. Dengan kata lain, masyarakat paham betul akan pentingnya asuransi, tetapi belum banyak yang mengambil kunci emas.
Dari temuan itu, IFG sadar, tugas utama mereka adalah mewadahi hal itu, dengan membuat literasi masuk ke dalam bagian kehidupan sehari-hari.
Patahkan Stigma Ribet

Bagaikan sebuah kunci serba fungsi, IFG ingin mematahkan stigma banyak orang akan mengurus asuransi seperti sebuah berankas, penuh syarat, rumit, dan mahal. Salah satu inoasi yang dihadirkan adalah OnebyIFG, sebuah platform digital yang memungkinkan masyarakat mengakses produk asuransi secara lebih mudah dan simple.
Dengan aplikasi ini, para calon nasabah dapat melihat produk yang disajikan secara jelas, membeli dengan cepat, hingga melakukan klaim tanpa ribet. Meminimalisir rasa curiga yang sering melekat pada industry asuransi.
Tak sampai disitu saja, IFG juga menggandeng produk mikro, premi kecil dengan manfaat perlindungan yang cukup untuk kebutuhan dasar. Dengan begitu, pekerjaan di sektor informal atau masyarakat berpenghasilan renda tetap bisa memiliki perlindungan.
Hal ini menjadi penting, dilansir dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menunjukkan sebuah data Tingkat penetrasi asuransi di Indonesia masih berada di kisaran 2,75% terhadap PDB (2023), jauh lebih rendah dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. IFG sadar akan hal itu, tanpa adanya formula sederhana dan mudah diakses, angka ini sangat sulit bergerak naik.
Harapan Bagi Masa Depan Generasi Bangsa
Sebuah harapan bagi masa depan untuk generasi bangsa yang cerah. IFG aktif menggelar campus visit untuk mengajak para mahasiswa memahami bahwa proteksi bukan hanya soal hari tua, melainkan tentang keberanian tanpa ketakutan.
Generasi Z yang lahir di era kemajuak teknologi dan derasnya informasi yang mudah diakses, dengan berbagai risiko lewat ekosistem daring, sebenarnya memiliki potensi besar untuk menjadi generasi sadar proteksi. Melalui edukasi, IFG menanamkan sejak dini, dan tumbuh menjadi kelompok masyarakat yang lebih siap menghadapi risiko finansial.
Asuransi kesehatan menjadi langkah awal yang dapat dimiliki oleh mahasiswa. Bagi generasi sandwich, perlindungan jiwa dengan premi ringan adalah bentuk rasa cinta kepada keluarga. IFG pun berusaha membuat proteksi menjadi bagian lifestyle sehat finansial, bukan hanya sekedar kewajiban.
Bukan Jalan Pintas
Tidak ada jalan pintas dalam meningkatkan inklusi asuransi. Ombak besar dan kecil pasti selalu menerjang karang.
Masih adanya anggapan bahwa membayar premi adalah “membuang uang”. Menjadi kan sebuah tantangan akan adanya literasi keuangan, yang dapat memberikan pemahaman serta konsep risiko dan proteksi.
Letak geografis Indonesia yang cukup beragam, menjadikan pematik semangat IFG untuk terus menjangkau daerah yang belum mendapatkan layanan distribusi yang memadai.
IFG tidak berjalan sendiri, dengan berkolaborasi berbagai pihak, seperti pemerintah, perguruan tinggi, komunitas, hingga starup digital. Menciptakan ekosistem yang lebih luas, di mana inklusi asuransi menjadi gerakan bersama, bukan hanya tanggung jawab suatu lembaga.
Benih yang dulunya ditanam, kini mulai muncul ke permukaan. Edukasi publik yang kian diselenggarakan, produk digital semakin diketahui, dan masyarakat mulai membangun kepercayaan kepada IFG. Kepercayaan inilah kunci emas, karena tanpa rasa percaya, polis hanyalah selembar kertas.
Dampak Jangka Panjang: Bukan Sekadar Polis
Manfaat inklusi asuransi jauh melebihi angka premia tau jumlah polis. Bagi Ratna, asuransi adalah ketenangan jiwa. Ia tahu, jika suatu hari musibah datang, anaknya Bima tetap dapat sekilah, dapur tetap bisa mengepul, dan rencana masa depan yang telah dipupuk tak hatus berhenti.
Secara makro, inklusi asuransi membantu menjaga stabilitas ekonomi. Rumah tangga yang terlindungi asuransi cenderung lebih tangguh menghadapi guncangan, sehingga konsumsi tidak mudah terganggu. Pada gilirannya, ini mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang lebih stabil.
Lebih dari itu, asuransi juga mendorong keberanian. Dengan risiko yang terlindungi, masyarakat berani mengambil langkah lebih besar, membuka usaha, melanjutkan pendidikan, atau bermimpi lebih jauh.
Menjahit Masa Depan Bersama
“Updaya” bukan sekadar nama program IFG. Kata itu menggambarkan sebuah Gerak, upaya yang terus-menerus, tiada henti, untuk menjangkau yang selama ini terlewat.
Di ruang kelas sederhana, di layar ponsel masyarakat, hingga di hati keluarga kecil seperti Siti, IFG mencoba menenun benang-benang harapan. Perlindungan tidak lagi menjadi hak eksklusif segelintir orang, melainkan jaring yang bisa dirasakan semua lapisan masyarakat.
Mungkin, kita semua pernah bertanya dalam hati: “Apakah keluargaku akan baik-baik saja nanti?”
Hari ini, lewat inklusi asuransi yang kian meluas, jawaban itu bisa lebih meyakinkan: ya, mereka akan baik-baik saja. Karena ada upaya yang terus berjalan, ada harapan yang dijahit, ada IFG yang menyalakan cahaya di jalan panjang perlindungan finansial masa depan. (Ang)



