
Samarinda, Kaltimedia.com – Kalimantan Timur (Kaltim) mencatat capaian positif dalam Indeks Ketahanan Pangan tahun 2025 dengan skor 80,82, naik dari 78,61 pada tahun sebelumnya. Namun, tantangan besar masih membayangi, terutama di aspek ketersediaan pangan lokal.
Kepala UPTD Balai Pelatihan dan Penyuluhan SDM Pertanian DPTPH Kaltim, Tri Ida Kartini, menjelaskan bahwa ketahanan pangan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga memerlukan peran akademisi, petani, organisasi tani, hingga masyarakat luas.
“Ketahanan pangan bukan sekadar tugas pemerintah. Dukungan akademisi, KTNA, dan elemen masyarakat lain sangat penting untuk menjaga sekaligus memajukan kondisi pangan kita,” ujarnya, Jumat (3/10/2025).
Tri Ida merinci, tiga komponen penyusun indeks ketahanan pangan Kaltim tahun 2025 adalah ketersediaan sebesar 73,45, keterjangkauan 86,21, dan pemanfaatan 82,87. Dari angka itu, jelas terlihat bahwa masalah terbesar ada pada aspek ketersediaan.
Produksi beras, misalnya, baru mampu memenuhi 42,23 persen kebutuhan masyarakat. Selebihnya, Kaltim masih mengandalkan pasokan dari provinsi lain.
“Artinya, produksi pangan lokal belum mencukupi kebutuhan. Untuk komoditas utama seperti beras, kita masih bergantung pada daerah lain,” katanya.
Ia menegaskan, memperkuat produksi dalam negeri harus menjadi prioritas agar Kaltim tidak terus bergantung pada suplai luar. Kolaborasi lintas sektor mulai dari pemerintah, akademisi, swasta, hingga petani lokal sangat diperlukan.
“Langkah ini penting untuk mendorong Kaltim lebih mandiri dan berdaulat dalam memenuhi kebutuhan pangan masyarakat,” pungkasnya. (Rfh)
Editor: Ang





