Problematika Bahasa di Ruang Publik, Diperbincangkan dalam Forum SUMBU TENGAH Edisi 3

Foto: Narasumber SUMBU TENGAH Edisi 3 di Balai Bahasa Kaltim. Sumber: Istimewa.

Samarinda, Kaltimedia.com — Meskipun mata pelajaran Bahasa Indonesia diajarkan sejak SD hingga perguruan tinggi, penggunaan bahasa Indonesia di ruang publik Indonesia masih menghadapi tantangan serius.

Fenomena makian di media sosial, dominasi bahasa prokem, hingga rendahnya apresiasi terhadap ragam bahasa baku, menjadi sorotan utama dalam forum SUMBU TENGAH Edisi 3 yang digelar oleh Balai Bahasa Provinsi Kalimantan Timur, Senin (28/7/2025).

Forum ini menghadirkan tujuh narasumber dari latar belakang beragam, mulai dari jurnalis, duta bahasa, duta baca, hingga sejarawan dan ventrilokuis.

Mereka berdiskusi dalam suasana terbuka mengenai bagaimana bahasa Indonesia saat ini digunakan dan dimaknai oleh masyarakat, khususnya generasi muda.

Jurnalis senior sekaligus pemimpin redaksi Kaltimkece.id, Felanans Mustari, menyoroti maraknya penggunaan kata-kata kasar di dunia digital. Ia menggambarkan suasana di ruang obrolan gim online yang penuh dengan umpatan.

“Para pemain game online seolah punya kamus sendiri, isinya umpatan seisi kebun binatang,” ucap Felanans.

Ia membandingkan kondisi Indonesia dengan Jepang, di mana bahasa nasional hanya diujikan kepada warga asing, bukan kepada warganya sendiri seperti dalam kasus Uji Kemahiran Berbahasa Indonesia (UKBI).

Isu lain datang dari kemunculan diksi-diksi baru di media sosial. Rusdianto, pendiri SUMBU TENGAH, mencontohkan fenomena TikTok yang memunculkan kata “galgah” sebagai lawan kata “haus”, padahal menurut KBBI, kata yang benar adalah “palum”.

Tirta Artesian, Duta Baca Kaltimtara 2025, menambahkan bahwa beberapa padanan kata baku seperti “tagar” (untuk hashtag) cukup diterima publik. Namun, kata seperti “tetikus” (untuk mouse) kurang populer.

“Kita menyaksikan bagaimana publik memilih, mana yang mereka anggap praktis dan mana yang ditolak,” jelas Tirta.

Jacinta Maharani Mulawarman, Duta Bahasa Kaltimtara, mengakui bahwa penggunaan bahasa baku di luar forum resmi kadang mendapat respons negatif dari lingkungan pertemanan.

“Pernah diejek karena terlalu baku di tongkrongan. Tapi saya tetap pakai supaya teman-teman bisa terbiasa,” ungkap mahasiswa Sastra Inggris ini.

Muhammad Sarip, sejarawan dan penulis buku Histori Kutai dan Historipedia Kalimantan Timur, mengakui bahwa karya-karya terdahulunya kini dinilai “sulit dipahami” oleh generasi muda.

“Mereka lebih mudah mencerna jika diksi atau istilah disandingkan dengan bahasa Inggris,” kata Sarip. Ia pun kini memilih berkolaborasi dengan anak muda untuk menjaga relevansi gaya bahasa dalam karyanya.

Komentar ini diperkuat oleh Utih Arum Zahra, pendiri komunitas Kombaca Samarinda, yang menyebut bahwa gaya bahasa Historipedia masih terlalu milenial dan belum sepenuhnya menyentuh cara komunikasi Gen Z.

Cerita datang dari Alma Fadilla Putri, guru SDN di Samarinda. Ia mengatakan bahwa ketika menjelaskan arti “sahabat” dengan bahasa baku, siswa justru bingung. Namun saat disandingkan dengan istilah populer “bestie”, anak-anak langsung mengerti.

Hal ini dibenarkan Celine Huang, Duta Baca Remaja Kota Samarinda. Pelajar SMA ini menganggap penting bagi pendidik untuk menyesuaikan metode penyampaian dengan kebiasaan berbahasa muridnya.

Namun, Sarip mengingatkan bahwa pendidik tetap terikat dengan regulasi pemerintah terkait standar dan etika berbahasa.

Forum ditutup dengan penampilan menarik dari Cinzy Grace, seorang ventrilokuis yang menggunakan bonekanya, Cinoy, untuk membawakan cerita tentang pesut Mahakam.

Penampilan ini bukan sekadar hiburan, tetapi juga menjadi media penyampaian pesan-pesan berbahasa kepada generasi muda secara kreatif.

Cinzy juga menjelaskan teknik ventrilokuis sebagai seni berbicara tanpa menggerakkan bibir, menggunakan perut sebagai sumber suara.

Dalam sambutannya, Kepala Balai Bahasa Kaltim, Asep Juanda, menegaskan pentingnya menjaga bahasa sesuai konteks penggunaannya.

“Bahasa itu seperti pakaian. Kita harus tahu kapan dan di mana menggunakannya,” ujar Asep.

SUMBU TENGAH sendiri merupakan singkatan dari Solidaritas Usaha Membina Budaya Ucap, Tulis, Ekspresi, Nalar, Gagasan, Ajaran, dan Hikmah. Forum edisi ketiga ini ditutup dengan pembagian zine atau buletin cetak kepada seluruh peserta. (Rfh)

Editor: Ang

Share

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *