
Paser, Kaltimedia.com – Memasuki musim kemarau yang diprediksi berlangsung hingga puncaknya pada Agustus 2025, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Paser mulai mengambil langkah-langkah antisipatif untuk mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Musim kemarau tahun ini diprediksi berada dalam kategori normal, berdasarkan pantauan dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) wilayah Paser.
Namun demikian, pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa kewaspadaan tetap diperlukan, khususnya di wilayah yang memiliki riwayat kebakaran lahan.
Kepala Pelaksana BPBD Paser, Ruslan, mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan pemetaan wilayah rawan karhutla berdasarkan kejadian-kejadian sebelumnya.
Beberapa daerah yang dianggap rentan antara lain Jone, Sangkuriman, dan Pasir Belengkong, yang semuanya berada di sekitar Kota Tana Paser (Tanah Grogot).
“Kami jadikan data tahun 2023 sebagai acuan dalam menentukan titik-titik rawan. Itu penting agar mitigasi lebih terarah dan tepat sasaran,” jelas Ruslan, Selasa (29/7/2025).
Langkah mitigasi ini, menurut Ruslan, tidak bisa dilakukan sendirian. Diperlukan koordinasi lintas sektor yang melibatkan instansi teknis seperti Dinas Kehutanan, Dinas Perkebunan, perusahaan tambang dan perkebunan, serta satuan pemadam kebakaran.
“BPBD tidak bisa bekerja sendiri. Perlu sinergi dengan pelaku usaha dan instansi terkait agar penanganan lebih efektif,” imbuhnya.
Selain itu, BPBD Paser juga tengah meningkatkan kapasitas relawan Penanggulangan dan Pengurangan Risiko Bencana (PPA) melalui pelatihan selama tiga hari.
Edukasi kepada masyarakat juga menjadi kunci penting, terutama di kawasan pertanian yang menjadi titik rawan kebakaran saat musim kemarau.
Ruslan menyoroti pentingnya tata kelola air sebagai bagian dari strategi penanggulangan. Pasalnya, banyak kejadian di mana api sulit dipadamkan karena akses air sangat terbatas dan jauh dari titik kebakaran.
“Kita harus petakan sumber air. Pernah kejadian, air terlalu jauh dan menyulitkan proses pemadaman. Itu jadi pelajaran penting,” katanya.
BPBD Paser merencanakan untuk segera mengadakan koordinasi lanjutan dengan para pelaku usaha dan dinas teknis, terutama di daerah yang setiap tahun menunjukkan pola kebakaran serupa.
Ruslan juga menyebut bahwa beberapa lokasi seperti Pasir Belengkong dan kawasan kebun di Grogot, yang berdekatan dengan pabrik atau lahan usaha, akan menjadi fokus sosialisasi dan edukasi lanjutan.
“Kami akan edukasi perusahaan-perusahaan di wilayah tersebut dan berkoordinasi dengan Dinas Perkebunan untuk pencegahan jangka panjang,” tutupnya.
Dengan langkah-langkah ini, diharapkan Kabupaten Paser dapat melalui musim kemarau tahun ini tanpa insiden besar karhutla, sekaligus membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya menjaga lingkungan secara berkelanjutan. (Dy)
Editor: Ang



