
Samarinda, Kaltimedia.com — Lonjakan kasus penyakit menular seperti Tuberkulosis (TBC) dan HIV-AIDS di Kecamatan Palaran menjadi perhatian serius DPRD Samarinda. Dalam kurun waktu sepuluh bulan terakhir, puluhan warga setempat dilaporkan menjalani pengobatan, sementara kasus baru terus ditemukan dari waktu ke waktu.
Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran akan potensi penyebaran penyakit yang lebih luas jika tidak segera dikendalikan. Untuk memastikan langkah pencegahan berjalan efektif, Panitia Khusus (Pansus) IV DPRD Samarinda melakukan kunjungan lapangan ke Puskesmas Palaran baru-baru ini.
Kunjungan itu bertujuan meninjau secara langsung pelaksanaan program penanganan dan pencegahan penyakit menular, terutama TBC dan HIV-AIDS, di wilayah yang memiliki tingkat kepadatan penduduk cukup tinggi.
Wakil Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Sri Puji Astuti, menjelaskan bahwa Puskesmas Palaran saat ini telah dilengkapi dengan alat Truenat Cartridge Module (TCM), teknologi pendeteksi bakteri penyebab TBC yang mampu memberikan hasil secara cepat dan akurat.
“Wilayah Palaran membawahi tiga kelurahan dengan total penduduk sekitar 44 ribu jiwa. Berdasarkan data yang kami terima, daerah ini termasuk dengan jumlah kasus TBC dan HIV tertinggi di Samarinda,” ujarnya.
Berdasarkan catatan hingga Oktober 2025, terdapat sekitar 50 pasien TBC di wilayah tersebut, dan 40 di antaranya masih menjalani pengobatan aktif, termasuk beberapa pasien anak-anak.
Puji mengungkapkan, meski ketersediaan obat dari Dinas Kesehatan masih mencukupi, tantangan utama justru datang dari rendahnya kesadaran masyarakat untuk mengikuti pengobatan secara tuntas.
“Masih banyak keluarga pasien yang enggan mengonsumsi obat karena merasa tidak mengalami gejala. Padahal kondisi itu bisa menimbulkan TBC laten, yang sewaktu-waktu dapat berkembang dan menular ke orang lain,” tegas politisi Partai Demokrat tersebut.
Selain TBC dan HIV, Pansus IV juga menemukan adanya kasus infeksi menular seksual (IMS) pada kelompok usia remaja, bahkan pada anak berusia 13 tahun.
“Temuan ini cukup mengkhawatirkan karena menunjukkan adanya pergaulan bebas di usia muda. Jika tidak segera ditangani, bisa memperluas penularan HIV maupun penyakit menular lainnya,” imbuhnya.
Puji berharap hasil kunjungan tersebut dapat menjadi bahan evaluasi dan rekomendasi bagi Pemerintah Kota Samarinda untuk memperkuat upaya edukasi, promosi kesehatan, serta langkah pencegahan dini di tingkat masyarakat.
“Masalah kesehatan tidak bisa dipisahkan dari produktivitas masyarakat. Jika masyarakat sehat, tentu tingkat kesejahteraan juga akan meningkat,” tandasnya. (Rfh)
Editor: Ang





