
Jakarta, Kaltimedia.com – Harga minyak dunia menguat pada perdagangan Jumat (22/5/2026) seiring meningkatnya keraguan pasar terhadap peluang tercapainya kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Investor menilai perundingan kedua negara masih menghadapi hambatan, terutama terkait persediaan uranium Teheran dan pengaturan di Selat Hormuz.
Meski mengalami kenaikan harian, pasar minyak global masih berada di jalur pelemahan mingguan setelah sempat turun tajam pada perdagangan sebelumnya.
Mengutip Reuters, kontrak berjangka minyak mentah Brent naik 2,38 dolar AS atau 2,3 persen menjadi 104,96 dolar AS per barel pada pukul 00.34 waktu setempat. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menguat 1,73 dolar AS atau 1,8 persen ke level 98,08 dolar AS per barel.
Sebelumnya, kedua acuan minyak tersebut merosot sekitar 2 persen pada perdagangan Kamis (21/5/2026), sekaligus mencatat penutupan terendah dalam hampir dua pekan terakhir.
Seorang sumber senior Iran mengatakan kepada Reuters bahwa hingga kini belum ada kesepakatan dengan AS, meskipun perbedaan pandangan antara kedua negara mulai menyempit.
Di sisi lain, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyebut terdapat “sejumlah tanda positif” dalam pembicaraan tersebut. Namun, ia menegaskan sistem pungutan atau tarif apa pun di Selat Hormuz tidak dapat diterima.
Analis komoditas Rakuten Securities, Satoru Yoshida, menilai ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah masih menjadi faktor utama penggerak harga minyak.
“Dengan prospek perundingan damai yang masih belum pasti, harga minyak naik karena pasar memperkirakan ketidakstabilan di Timur Tengah serta gangguan pasokan yang terkait dengan Selat Hormuz akan terus berlanjut,” kata Yoshida dikutip Reuters.
Ia memperkirakan harga minyak WTI masih akan bergerak di kisaran 90 hingga 110 dolar AS per barel dalam pekan depan.
“WTI kemungkinan akan tetap bergerak di kisaran 90-110 dolar AS per barel pekan depan, sebagaimana yang terjadi sejak akhir Maret,” tambahnya.
Konflik Iran turut memicu kekhawatiran terhadap pasokan energi global. Sebelum perang pecah, sekitar 20 persen distribusi energi dunia melewati Selat Hormuz.
Perang yang berlangsung disebut telah menghilangkan sekitar 14 juta barel minyak per hari dari pasar global atau setara 14 persen pasokan dunia, termasuk ekspor dari Arab Saudi, Irak, Uni Emirat Arab, dan Kuwait.
Kepala perusahaan minyak nasional Uni Emirat Arab, ADNOC, bahkan menyebut arus penuh pengiriman minyak melalui Selat Hormuz diperkirakan baru pulih pada kuartal pertama atau kedua tahun 2027, meski konflik berakhir saat ini.
Sementara itu, empat sumber Reuters menyebut tujuh negara produsen utama anggota OPEC+ diperkirakan akan menyetujui kenaikan produksi minyak secara moderat untuk Juli dalam pertemuan pada 7 Juni mendatang. Namun, distribusi minyak dari sejumlah negara masih terganggu akibat perang Iran. (Ang)



