Kemenkes Catat 2,3 Juta Anak Indonesia Belum Pernah Divaksin, RI Masuk Enam Besar Dunia

Gambar saat ini: Foto: Ilustrasi suntik vaksin. Sumber: Istimewa.
Foto: Ilustrasi suntik vaksin. Sumber: Istimewa.

Jakarta, Kaltimedia.com – Kementerian Kesehatan Republik Indonesia mencatat sekitar 2,3 juta anak di Indonesia masuk kategori zero-dose atau belum pernah menerima imunisasi sama sekali hingga 2025. Jumlah tersebut merupakan akumulasi data sejak 2023 hingga 2025.

Ketua Tim Kerja Imunisasi Bayi dan Anak Kemenkes, Gertrudis Tandy mengatakan, berdasarkan data World Health Organization, Indonesia saat ini berada di peringkat keenam negara dengan jumlah anak zero-dose terbanyak di dunia.

“Kalau kita lihat data 2023, 2024, 2025, dan diakumulasikan, saat ini ada sekitar 2,3 juta anak,” ujar Gertrudis dalam kegiatan media briefing di Kantor UPTD Pelatihan Kesehatan Jawa Barat, Bandung, Senin 11 Mei 2026.

Meski demikian, Kemenkes menilai angka tersebut masih dapat ditekan melalui program imunisasi kejar yang kini terus digencarkan di berbagai daerah.

Gertrudis menjelaskan, istilah zero-dose merujuk pada anak yang belum pernah menerima imunisasi rutin apa pun. Secara operasional, kategori ini ditandai dengan belum diterimanya vaksin DPT dosis pertama atau Difteri, Pertusis, dan Tetanus.

Menurut dia, masih tingginya angka anak yang belum diimunisasi dipengaruhi sejumlah faktor. Mulai dari keraguan masyarakat terhadap vaksin, rendahnya pemahaman orang tua, hingga kendala pencatatan dan distribusi layanan kesehatan di lapangan.

“Kalau tidak dibantu seluruh komponen, mulai bidan desa, perangkat desa, kader, tokoh agama, hingga tokoh masyarakat, akan sangat sulit memetakan keberadaan anak-anak yang belum mendapat imunisasi,” katanya.

Pemerintah saat ini terus menjalankan program imunisasi kejar untuk mengejar anak-anak yang tertinggal jadwal vaksinasi. Namun, proses pelacakan dinilai menjadi tantangan utama karena data sasaran masih bersifat proyeksi.

Kemenkes menilai keterlibatan lintas sektor menjadi kunci agar anak-anak yang belum mendapatkan imunisasi dapat segera ditemukan dan diberikan layanan vaksinasi.

“Setelah dipetakan baru dilacak anaknya ada di mana, kemudian dilakukan imunisasi kejar. Dukungan lintas sektor sangat penting,” ujar Gertrudis.

Pemerintah berharap percepatan imunisasi dapat menekan risiko penyebaran penyakit yang sebenarnya dapat dicegah melalui vaksinasi dasar pada anak. (Ang)

Share

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *