Kemenkes Ungkap Kronologi Meninggalnya Dokter Internship di Jambi

Gambar saat ini: Foto: Ilustrasi seorang dokter melayani pasien. Sumber: Istimewa.
Foto: Ilustrasi seorang dokter melayani pasien. Sumber: Istimewa.

Jakarta, Kaltimedia.com – Kementerian Kesehatan mengungkap kronologi meninggalnya dokter internship bernama Myta Aprilia Azmy yang bertugas di RSUD KH Daud Arif.

Pelaksana Tugas Inspektur Jenderal Kemenkes, Rudi Supriatna Nata, menjelaskan dokter lulusan Universitas Sriwijaya itu mulai menjalani program internship sejak Agustus 2025 dan dinyatakan sehat berdasarkan hasil medical check up.

“Sepanjang menjalani internship, dokter MAA tidak ada keluhan kesehatan,” ujar Rudi dalam konferensi pers di Jakarta Selatan, Kamis (7/5/2026).

Gejala sakit mulai dirasakan Myta pada 26 Maret 2026 saat menjalani stase di Instalasi Gawat Darurat (IGD). Meski mengalami demam, batuk, dan pilek, ia disebut tetap menjalankan tugas jaga dan melakukan pengobatan mandiri.

Kondisi itu berlanjut hingga akhir Maret. Bahkan setelah menjalani jaga malam, Myta meminta dipasang infus tanpa melaporkan kondisi kesehatannya kepada dokter pendamping.

Pada 1 April 2026, Myta sempat mengirim pesan suara kepada rekannya dan mengeluhkan kondisi tubuhnya yang terus menurun. Namun, pada 11 hingga 12 April, ia masih menjalani jadwal jaga pagi di IGD.

Keesokan harinya, tepat saat ulang tahunnya pada 13 April, Myta kembali dipasang infus setelah menjalani jaga malam. Kemenkes juga memperlihatkan video saat ia merayakan ulang tahun bersama rekan-rekannya dalam kondisi tangan masih terpasang infus.

Kondisinya semakin memburuk pada 15 April 2026. Dalam pesan suara kepada rekannya, suara Myta terdengar sesak napas. Rekannya kemudian menemukan Myta dalam keadaan linglung di bawah tangga kos dan langsung membawanya ke IGD RSUD KH Daud Arif.

Myta menjalani perawatan di rumah sakit tersebut sejak 15 hingga 20 April 2026. Setelah sempat diperbolehkan pulang atas permintaan sendiri, kondisinya kembali menurun hanya beberapa jam kemudian dengan demam tinggi dan sesak napas.

Keluarga yang datang dari OKU Selatan kemudian membawa Myta ke RSUD Raden Mattaher menggunakan mobil pribadi dengan bantuan oksigen pinjaman dari dokter pendamping.

Menurut Kemenkes, proses pemindahan itu tidak menggunakan ambulans maupun prosedur rujukan resmi.

Di RSUD Raden Mattaher, Myta menjalani perawatan selama sekitar tiga hari sebelum diperbolehkan pulang pada 24 April 2026. Ia sempat kembali ke Kuala Tungkal untuk melanjutkan internship, namun dokter pendamping menyarankan agar beristirahat selama satu hingga dua minggu.

Sehari kemudian, kondisinya kembali memburuk dengan demam tinggi. Setelah sempat dibawa ke klinik milik keluarganya di OKU Selatan, Myta akhirnya dirujuk ke RSUP Dr Mohammad Hoesin.

Ia tiba di rumah sakit pada dini hari 27 April 2026 dan langsung dirawat di ruang isolasi infeksi. Karena mengalami gangguan paru berat dan sesak napas, Myta dipindahkan ke ruang ICU dan dipasang ventilator.

“Dokter MAA dirawat di ICU hingga wafat dengan kondisi penyakit paru berat,” kata Rudi. (Ang)

Share

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *