
Jakarta, Kaltimedia.com – Ledakan populasi ikan sapu-sapu di sejumlah sungai di Jakarta kini mencapai tahap yang mengkhawatirkan. Di beberapa aliran utama, spesies ini bahkan mendominasi hampir seluruh biota air yang ada.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (DKPKP) DKI Jakarta, Hasudungan A Sidabalok, mengungkapkan bahwa tingkat dominasi ikan ini berkisar antara 80 hingga 90 persen.
“Berdasarkan pemantauan DKPKP serta laporan masyarakat, di sepanjang aliran sungai utama seperti Ciliwung, Pesanggrahan, Kali Krukut, hingga Kali Cideng, persentasenya bisa mencapai 80–90 persen dari total biota air,” ujarnya.
Menurutnya, kondisi ini menunjukkan bahwa ikan sapu-sapu telah menguasai ruang hidup dan menekan keberadaan ikan lokal.
Spesies Invasif dengan Kemampuan Bertahan Tinggi
Fenomena ini tidak terjadi secara tiba-tiba. Peneliti dari BRIN, Triyanto, menjelaskan bahwa ikan sapu-sapu merupakan spesies asing invasif yang berasal dari Amerika Selatan dan masuk ke Indonesia melalui perdagangan ikan hias.
“Banyak yang kemudian dilepas atau terlepas ke perairan umum, baik sengaja maupun tidak,” jelasnya.
Ia menyebut ikan ini memiliki kemampuan reproduksi yang sangat tinggi. Dalam satu kali pemijahan, seekor induk dapat menghasilkan hingga ribuan telur dan mampu berkembang biak beberapa kali dalam setahun.
Selain itu, ikan sapu-sapu juga sangat adaptif terhadap lingkungan ekstrem, termasuk perairan dengan kadar oksigen rendah dan tingkat pencemaran tinggi.
“Ikan ini dikenal sangat adaptif terhadap kondisi lingkungan yang terdegradasi,” tambahnya.
Minim Predator, Populasi Tak Terkendali
Keunggulan lain dari ikan ini adalah hampir tidak memiliki predator alami di perairan Indonesia. Struktur tubuhnya yang keras membuatnya sulit dimangsa oleh ikan lain.
Akibatnya, ketika ikan lokal menurun karena pencemaran, ikan sapu-sapu justru semakin leluasa berkembang.
Tak hanya itu, ikan ini juga memakan telur dan larva ikan lain, sehingga mempercepat penurunan populasi spesies asli.
“Ikan ini dapat menghisap telur dan larva ikan lokal, sehingga memperburuk regenerasi ikan asli,” kata Triyanto.
Cerminan Buruknya Kondisi Sungai Jakarta
Pengamat tata kota, Yayat Supriatna, menilai fenomena ini bukan sekadar persoalan biologis, melainkan indikator masalah besar dalam pengelolaan lingkungan perkotaan.
Menurutnya, sungai-sungai di Jakarta selama ini menjadi tempat pembuangan limbah dalam jumlah besar, baik dari rumah tangga maupun industri.
“Sungai Jakarta itu bisa dibilang seperti septic tank raksasa karena limbah manusia sangat besar,” ujarnya.
Ia juga menyoroti rendahnya kualitas sanitasi di kawasan padat penduduk, yang memperparah pencemaran sungai.
“Yang menjadi masalah bukan hanya infrastrukturnya, tetapi juga perilaku manusianya,” tegasnya.
Berisiko Dikonsumsi, Mengandung Logam Berat
Di tengah melimpahnya populasi, muncul pertanyaan soal potensi konsumsi ikan ini. Namun, ahli kesehatan lingkungan Dicky Budiman menegaskan bahwa ikan sapu-sapu berisiko bagi kesehatan.
Sebagai ikan dasar (bottom feeder), ikan ini hidup di sedimen yang mengandung berbagai polutan, termasuk logam berat seperti merkuri, timbal, dan kadmium.
“Kalau bicara untuk konsumsi manusia, saya tidak menganjurkan karena punya potensi cemaran tinggi,” ujarnya.
Paparan zat berbahaya tersebut dapat menyebabkan gangguan pencernaan hingga risiko penyakit kronis seperti kerusakan saraf dan kanker.
Pemprov DKI Lakukan Penangkapan Massal
Sebagai langkah pengendalian, Pemprov DKI Jakarta telah melakukan penangkapan ikan sapu-sapu di sejumlah titik.
DKPKP juga berencana menggelar operasi penangkapan massal serentak di lima wilayah Jakarta.
Ikan yang tertangkap akan dimatikan dan dikubur secara higienis untuk mencegah penyebaran kembali, sekaligus menghindari risiko kesehatan jika dikonsumsi.
“Hasil uji laboratorium menunjukkan ikan ini mengandung bakteri berbahaya serta residu logam berat,” jelas Hasudungan.
Ancaman Nyata bagi Keanekaragaman Hayati
Fenomena ini menjadi alarm serius bagi ekosistem sungai di Indonesia. Ledakan populasi ikan sapu-sapu tidak hanya mengganggu keseimbangan rantai makanan, tetapi juga mengancam keberlangsungan ikan lokal.
“Ikan sapu-sapu adalah indikator krisis ekologi sekaligus ancaman nyata bagi biodiversitas,” pungkas Triyanto. (Ang)





