
BERSIHKAN DRAINASE – Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Balikpapan melalui UPTD Drainase dan Bozem gencar melakukan pembersihan saluran air di sejumlah titik wilayah Kota Minyak.
BALIKPAPAN – Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Balikpapan melalui UPTD Drainase dan Bozem gencar melakukan pembersihan saluran air di sejumlah titik wilayah Kota Minyak.
Salah satunya di Jalan Mayjen Sutoyo, Balikpapan tengah atau tepat di depan eks Pusat Kegiatan Islamiah Balikpapan (Puskib).
Kepala UPTD Drainase dan Bozem DPU Balikpapan, Rahmad Sukiman mengatakan pekerjaan ini lebih banyak menyasar tumpukan sampah. Khususnya yang menutup aliran air.
“Meskipun kami rutin angkat sampahnya di titik ini, sedimentasinya juga kami kurangi pelan-pelan,” ujarnya, Senin (17/11/2025).
Rahmad menyampaikan pembersihan drainase ini menjadi kegiatan rutin yang terus berjalan, tanpa batas waktu yang ditentukan. Dengan memperhatikan titik-titik yang kondisinya mendesak.
Meski jumlah personel terbatas, pihaknya berupaya menyelesaikan pekerjaan dengan optimal agar aliran air kembali lancar dan tidak menimbulkan genangan saat hujan turun.
Ia berharap warga ikut menjaga kebersihan lingkungan sehingga upaya pemerintah dalam mengurangi risiko genangan dapat berjalan maksimal.
Misalnya tidak membuang sampah ke saluran air ataupun selokan. Pasalnya, kebiasaan tersebut menjadi faktor pemicu tersumbatnya saluran drainase.
“Sampah di saluran itu ujung-ujungnya bikin banjir dan jadi sarang penyakit. Jadi mohon buang sampah pada tempatnya dan sesuai jam yang ditentukan. Kalau lingkungannya bersih, kita juga yang merasakan manfaatnya,” tuturnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Sumber Daya Air dan Drainase DPU Balikpapan, Jen Supriyanto, menjelaskan bahwa penanganan banjir masih menjadi pekerjaan besar pemerintah daerah. Saat ini terdapat sekitar 64 titik genangan yang terus diperbarui berdasarkan kondisi lapangan.
“Data ini sifatnya dinamis. Ada titik yang hilang setelah ditangani, tetapi muncul titik baru karena aliran air mencari jalur terlemah berikutnya,” ujarnya.
Ia mencontohkan perubahan pola banjir di Jalan MT Haryono. Kawasan Telkom yang dulunya kerap digenangi kini mulai membaik setelah saluran diperbaiki.
Namun, genangan berpindah ke Ujung Beler. Menurut Jen, kondisi ini terjadi karena masalah di bagian hulu—seperti di kawasan Mufakat—belum tertangani sepenuhnya sehingga aliran air masih terhambat.
Lebih jauh, Jen mengungkap faktor paling dominan penyebab banjir di Balikpapan yakni dua daerah aliran sungai (DAS) besar yang membelah kota.
Aliran pertama mengalir dari Antasari menuju kawasan BC, yang selama ini dikenal rawan genangan.
Aliran kedua, yaitu DAS Ampal, bermula dari Pasar Segar, melewati Beler dan Mufakat, lalu menyusuri area sekitar Hotel Zurich hingga bermuara di kawasan BSB.
“Kedua DAS ini yang punya pengaruh terbesar terhadap dinamika banjir kota. DAS di wilayah timur dan utara juga ada, tetapi skalanya jauh lebih kecil,” jelasnya.
Jen menegaskan bahwa penanganan banjir dilakukan bertahap karena bergantung pada ketersediaan anggaran. Setiap pekerjaan disusun berdasarkan tingkat prioritas agar perbaikan berjalan efektif dan tidak tumpang tindih. (adv/pry)





