Rutan Tanah Grogot ubah Limbah Kayu, Jadi Arang Berkualitas Layak Ekspor

Gambar saat ini: Foto: Rutan Tanah Grogot ubah Limbah Kayu, Jadi Arang Berkualitas Layak Ekspor. Sumber: Istimewa.
Foto: Rutan Tanah Grogot ubah Limbah Kayu, Jadi Arang Berkualitas Layak Ekspor. Sumber: Istimewa.

Paser, Kaltimedia.com – Siapa sangka, di balik tembok tebal Rumah Tahanan (Rutan) Kelas IIB Tanah Grogot, tersimpan cerita tentang inovasi dan harapan baru. Tidak hanya menjalankan fungsi pembinaan, Rutan yang kini dipimpin oleh Yusuf Mukharom ini mampu melahirkan berbagai produk kreatif, mulai dari camilan, kerajinan tangan, daur ulang botol plastik, hingga sabun cuci piring.

Namun, ada satu inovasi yang belakangan menarik perhatian: pemanfaatan limbah kayu halaban (vintex pinnata) yang selama ini dianggap tak berguna, kini disulap menjadi arang berkualitas tinggi, grade A. Produk ini bahkan tengah dipersiapkan untuk menembus pasar ekspor internasional.

“Kalau di Paser, kayu halaban ini sering dianggap hama. Tidak ada nilainya. Tapi di tangan kami, kayu ini bisa diolah menjadi arang yang berkualitas dan punya nilai jual tinggi,” jelas Yusuf, Senin (15/09/2025).

Arang produksi warga binaan ini tidak sekadar arang biasa. Dengan pengolahan khusus, kadar airnya bisa ditekan di bawah 8 persen sesuai standar internasional. Arang dengan kualitas seperti ini sangat diminati oleh negara-negara industri, salah satunya Korea Selatan, yang menjadi target ekspor perdana.

“Tentu, sebelum bisa dikirim ke luar negeri, produk ini harus melalui serangkaian uji laboratorium dan pemenuhan spesifikasi teknis. Tidak bisa sembarangan. Karena itu, kami sedang menyiapkan semua persyaratan tersebut,” tambah Yusuf.

Bagi Yusuf, langkah ini bukan sekadar soal bisnis, tetapi juga upaya menciptakan nilai tambah dari balik rutan. Selama ini, belum ada satu pun lapas maupun rutan di Kalimantan Timur yang berhasil mengekspor produk olahan hasil pembinaan. Ia berharap, Tanah Grogot bisa menjadi pelopor.

“Kalau nanti ini berhasil, Rutan Tanah Grogot akan menjadi yang pertama di Kaltim punya produk ekspor. Harapan saya, ini bisa jadi inspirasi bagi lapas atau rutan lain, bahwa pembinaan bukan hanya soal disiplin, tapi juga menghasilkan karya nyata,” ujarnya penuh semangat.

Proses produksi arang sendiri saat ini masih terbatas. Dari tiga tungku yang dimiliki, Rutan baru mampu menghasilkan sekitar 3 ton arang. Padahal, untuk memenuhi syarat ekspor, setidaknya dibutuhkan 20 ton. Karena itu, rencana ke depan adalah menambah kapasitas produksi dengan membangun hingga 10 tungku pembakaran.

“Dari satu tungku, butuh waktu sekitar empat hari untuk menghasilkan satu ton lebih arang. Itu pun tidak semua layak ekspor, karena hanya grade A yang bisa dikirim. Jadi kami benar-benar selektif,” jelas Yusuf.

Jika semua berjalan lancar, ekspor perdana ditargetkan bisa dilakukan antara Oktober hingga November 2025. Meski waktunya tidak lama lagi, pihak Rutan optimistis dapat memenuhi syarat tersebut dengan kerja keras dan dukungan berbagai pihak.

Lebih dari sekadar angka produksi, cerita ini menunjukkan bahwa pembinaan warga binaan bisa membuka peluang baru bagi daerah. Dari sesuatu yang dianggap sampah, lahir produk bernilai tinggi yang bahkan siap bersaing di pasar global.

“Arang ini hanyalah permulaan. Ke depan, kami ingin terus berinovasi agar hasil karya warga binaan bisa dikenal, bermanfaat, dan memberi kontribusi nyata, baik bagi keluarga mereka maupun daerah,” tutup Yusuf. (Dy)

Editor: Ang

Share

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *