
Samarinda – Insiden longsor di sisi kanan inlet proyek Terowongan Samarinda, yang terjadi usai hujan deras dan angin kencang pada Senin dini hari (12/5), kembali membuka pertanyaan publik terkait persoalan mutu pembangunan infrastruktur di ibu kota Kalimantan Timur ini.
Material longsoran menimbun area lereng seluas lebih dari 200 meter persegi di Jalan Sultan Alimuddin, Kecamatan Samarinda Ilir. Kejadian tersebut memicu kekhawatiran tentang ketahanan mega proyek strategis kota terhadap kondisi cuaca ekstrem.
Anggota Komisi III DPRD Samarinda, Abdul Rohim, menyebutkan bahwa peristiwa ini menjadi sinyal bahwa pengawasan terhadap kualitas konstruksi dan pemeliharaan pasca-proyek masih perlu dibenahi.
“Ini bukan hanya tentang cuaca. Kalau strukturnya benar dan diawasi dengan baik, mestinya tidak mudah rusak,” ujarnya saat dikonfirmasi oleh Katimmedia.Com, pada Rabu (14/5/2025).
Ia mengatakan bahwa melalui Komisi III DPRD Samarinda telah menurunkan personel untuk melihat langsung kondisi di lapangan. Dalam kunjungannya diketahui mendapati hasil sementara menunjukkan adanya indikasi kerusakan struktural, bukan sekadar longsoran permukaan.
Sebagai langkah awal, DPRD akan memanggil Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Samarinda guna mendapatkan penjelasan teknis, termasuk soal mekanisme pengawasan saat pembangunan berlangsung dan perawatan rutin yang seharusnya dilakukan.
Menurut Rohim, proyek sebesar Terowongan Samarinda tidak boleh hanya selesai di atas kertas. Infrastruktur publik harus menjamin keamanan masyarakat, terutama saat terjadi cuaca ekstrem.
Ia juga mendorong transparansi dalam proses evaluasi teknis agar publik mengetahui kondisi sebenarnya dari proyek tersebut, sekaligus mencegah insiden serupa di kemudian hari.
“Kami minta semua dokumen teknis dibuka. Jangan hanya reaktif setelah kejadian. Ini soal akuntabilitas proyek publik,” tegas Rohim.
Ia menekankan bahwa DPRD tidak ingin terowongan yang dibangun dengan anggaran besar justru menimbulkan kekhawatiran di tengah masyarakat.
“Kalau proyek sebesar ini bisa longsor, kan sangat wajar publik bertanya,” tutupnya (Adv/Df)





