
Jombang, Kaltimedia.com – Polres Jombang mengungkap praktik pertanian ganja di sebuah rumah kontrakan di Jalan Pakubuwono, Dusun Mojongapit, Kecamatan/Kabupaten Jombang. Tak hanya menanam ganja, dua pelaku di lokasi itu ternyata juga bereksperimen membuat minuman keras dari hasil panen daun ganja.
Kasus ini terbongkar setelah polisi menangkap salah satu pelaku, Y (35), warga Desa Sidowarek, Kecamatan Ngoro, pada Minggu (14/12/2025).
Dari hasil pengembangan, petugas menggerebek rumah kontrakan tempat pertanian ganja pada Senin (15/12), dan menangkap otak pelaku, RS (43), warga asal Surabaya yang kini tinggal di Nganjuk.
Kasatresnarkoba Polres Jombang, Iptu Bowo Tri Kuncoro, mengatakan keduanya melakukan budidaya ganja sejak Maret 2025. Mereka menanam puluhan pohon ganja di halaman belakang rumah kontrakan dan memanfaatkan hasil panen untuk kebutuhan pribadi.
“R adalah pengelola utama yang belajar menanam ganja secara otodidak lewat media sosial. Ia mengubah rumah kontrakan menjadi green house lengkap dengan pendingin ruangan dan lampu tanning agar tanaman tumbuh optimal,” ujar Bowo, dikutip detik Selasa (17/12/2025).
Dalam penggerebekan, polisi menemukan 156 pohon ganja di 110 polibag, empat toples berisi fermentasi daun ganja, dan 5,3 kilogram daun ganja basah hasil panen kedua. Polisi juga menemukan sejumlah biji ganja impor dari London, Inggris.
“Daun ganja hasil panen difermentasi dengan alkohol medis 96 persen dan diminum langsung oleh tersangka. Mereka juga memanfaatkan sebagian tanaman untuk menghasilkan biji baru,” tambah Bowo.
Menurut penyidik, nilai total barang bukti mencapai sekitar Rp600 juta. Kedua pelaku kini ditahan di Rutan Polres Jombang dan dijerat Pasal 114 Ayat (2) junto Pasal 111 Ayat (2) junto Pasal 132 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2009 tentang Narkotika.
Polisi masih menelusuri adanya pihak lain yang diduga ikut mendanai kegiatan pertanian ganja ini. Teknologi tanam yang digunakan menandakan adanya modal besar di balik operasi tersebut.
“Tidak menutup kemungkinan akan muncul tersangka baru karena kami masih mendalami jaringan dan sumber pendanaannya,” tutup Bowo. (AS)





