
Gaza, Kaltimedia.com – UNICEF menyebut gencatan senjata di Gaza sebagai “kesempatan vital” bagi lebih dari satu juta anak yang masih hidup dalam ketakutan, kehilangan, dan trauma yang belum usai. Di wilayah kecil yang bertahun-tahun diliputi konflik, jeda tembak menjadi lebih dari sekadar penghentian serangan, melainkan ruang napas untuk mempertahankan masa depan sebuah generasi.
“Angka dan kata-kata tidak mampu mewakili penderitaan yang saya saksikan,” ujar Direktur Regional UNICEF untuk Timur Tengah dan Afrika Utara, Edouard Beigbeder.
UNICEF menegaskan, gencatan senjata bukan hanya langkah politik, tetapi harapan terakhir bagi kelangsungan hidup anak-anak Gaza yang selama ini tumbuh di tengah reruntuhan.
Sejak perang meletus pada 2023, data PBB mencatat puluhan ribu anak tewas, terluka, atau kehilangan orang tua. Namun di balik statistik, ada luka yang jauh lebih sunyi, ketakutan yang menetap, mimpi buruk yang terus datang, hingga masa depan yang terputus sebelum sempat dimulai. UNICEF menyebut Gaza sebagai “tempat paling berbahaya di dunia bagi seorang anak.”
Di tengah kondisi tersebut, UNICEF berupaya memulihkan kehidupan dari hal paling dasar: keselamatan, makanan, pendidikan, dan pendampingan psikososial. Lebih dari 100 ribu anak kini mulai kembali belajar di kelas darurat, sementara rencana jangka panjang ditujukan untuk membawa 650 ribu anak kembali bersekolah.
“Pendidikan bukan hanya soal kelas dan buku. Ia adalah tempat berpijak bagi harapan,” tegas Beigbeder.
UNICEF juga meminta agar bantuan kemanusiaan masuk dengan aman dan tanpa hambatan, karena kebutuhan dasar seperti pangan, obat-obatan, hingga paket pendidikan masih jauh dari cukup.
Bagi UNICEF, gencatan senjata bukan akhir dari duka, namun awal dari pintu kecil yang mungkin menyelamatkan masa depan. Sebuah masa depan yang hanya dapat tumbuh jika dunia memilih kemanusiaan, bukan kebencian atau pembalasan.
“Ini akan memakan waktu,” ujarnya, “tetapi masa depan yang damai dan inklusif masih mungkin, selama ada kemauan kolektif.”
Di Gaza, masa depan itu kini disandarkan pada jeda tembak yang rapuh. Namun bagi satu juta anak yang masih berharap, bahkan jeda sekecil apa pun tetap berarti: kesempatan untuk hidup. (Ang)





