
Samarinda – Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Sri Puji Astuti, mengapresiasi perkembangan layanan dan fasilitas Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah yang dinilainya telah mengalami perubahan signifikan.
Hal itu disampaikannya usai meninjau langsung gedung baru instansi tersebut beberapa hari lalu.
Menurutnya, transformasi yang terjadi mencakup banyak aspek, mulai dari infrastruktur yang kini lebih representatif hingga hadirnya teknologi digital seperti layanan e-book yang mempermudah akses masyarakat terhadap bahan bacaan.
“Sejak pertama saya duduk di DPR, kondisi perpustakaan sudah jauh berubah. Kini, layanan digitalisasi dan fasilitas e-book sudah tersedia, dan itu langkah maju yang patut diapresiasi,” ujarnya, Kamis (24/7/2025).
Sri juga menyoroti peningkatan kualitas sumber daya manusia di lingkungan perpustakaan. Penambahan pegawai serta perbaikan sistem layanan dinilai berhasil menciptakan suasana yang lebih terbuka dan profesional.
Tak hanya soal fisik dan pelayanan, ia menekankan pentingnya memperluas jangkauan literasi hingga ke masyarakat luas, khususnya generasi muda. Menurutnya, perpustakaan harus menjadi ruang publik yang aktif, bukan hanya tempat menyimpan buku.
“Selain bangunan baru yang representatif, pegawainya juga lebih siap melayani. Sekarang tinggal bagaimana kita bisa membuat fasilitas ini lebih dekat ke masyarakat,” katanya.
Sri mencontohkan kegiatan yang dilakukan Dharma Wanita dan BP PAUD yang sering menggunakan ruang perpustakaan untuk menggelar acara edukatif. Menurutnya, langkah seperti ini bisa menjadi sarana efektif memperkenalkan kembali perpustakaan kepada publik.
Ia pun mendorong agar ruang-ruang seperti auditorium atau bahkan ruang sidang DPRD dapat dimanfaatkan untuk kegiatan literasi. Pendekatan kreatif tersebut dianggap bisa membuka akses baru bagi warga, terutama anak-anak.
Namun, Sri mengakui masih ada tantangan, salah satunya minimnya keterlibatan orang tua dalam mendampingi anak-anak mereka datang ke perpustakaan. Kondisi ini menurutnya menjadi penghambat utama dalam membangun budaya literasi sejak usia dini.
“Kita tidak bisa berharap semua orang langsung datang. Ketertarikan dari orang tua juga terbatas. Padahal anak-anak sangat perlu didorong untuk mengenal dunia literasi sejak dini,” jelasnya.
Ia berharap ke depan perpustakaan bisa lebih aktif menjalin kerja sama dengan komunitas, sekolah, dan kelompok masyarakat lainnya untuk menciptakan program literasi yang inovatif dan menyenangkan.
“Dengan fasilitas dan teknologi yang sudah ada, tinggal bagaimana kita menghidupkan suasana literasi itu lewat kegiatan yang dekat dengan masyarakat,” pungkas Sri. (Adv)





