Kasus Bully di Lingkungan Sekolah Kian Marak, Menteri PPPA: Deteksi Dini dan Tanggap Cepat

Jakarta, Kaltimedia.com – Dua nyawa anak kembali melayang, bukan karena bencana alam atau wabah penyakit, melainkan karena kekerasan sesama anak di tempat yang seharusnya paling aman bagi mereka: sekolah.

Kasus tragis terjadi di dua wilayah berbeda Indragiri Hulu, Riau, dan Makassar, Sulawesi Selatan. Seorang anak SD berusia delapan tahun di Inhu diduga menjadi korban perundungan oleh kakak kelasnya. Ia sempat mengeluh sakit perut, dirawat di RSUD, dan akhirnya mengembuskan napas terakhir pada Senin (26/5/2025) lalu.

Kekerasan terhadap anak juga dilaporkan di Makassar. Dua insiden yang seolah menjadi potret buram wajah pendidikan dan perlindungan anak di Indonesia.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifah Fauzi, menyatakan bahwa negara tidak tinggal diam.

“Kami pastikan negara hadir. Komitmen kami adalah mendampingi keluarga korban untuk mendapatkan keadilan, dan memastikan hak anak terpenuhi, dengan tetap memberi efek jera kepada pelaku,” tegasnya dalam keterangan resmi di Jakarta, Minggu (1/6) malam.

KemenPPPA telah melakukan koordinasi dengan UPTD PPA di wilayah masing-masing, baik di Makassar maupun Inhu. Langkah-langkah lanjutan seperti asesmen psikologis terhadap pelaku juga akan dilakukan, melibatkan psikolog anak serta institusi sekolah dan keluarga.

Namun, meskipun pendekatan hukum tetap mempertimbangkan prinsip restorative justice sesuai UU No. 11 Tahun 2012 tentang Sistem Peradilan Pidana Anak, pertanyaan besar muncul: Mengapa intervensi negara selalu datang setelah korban meninggal?

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menegaskan pentingnya deteksi dini dan tanggapan cepat. “Bullying tidak pernah terjadi sekali. Ada unsur pengulangan. Maka deteksi dini dan respons cepat sangat penting,” kata Dian Sasmita, anggota KPAI.

Menurutnya, kepekaan terhadap tanda-tanda awal perundungan bisa mencegah tragedi. Lingkungan sosial, keluarga, dan sekolah perlu berperan aktif, bukan hanya reaktif.

Orang tua korban di Inhu sebelumnya mengungkap bahwa anak mereka kerap mengeluh sakit sebelum akhirnya meninggal dunia. Kini, kasus ini tengah diselidiki Polres Indragiri Hulu, yang masih menanti hasil autopsi untuk mengungkap penyebab pasti kematian. (Ang)

Share

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *