
SAMARINDA – Sebelumnya dalam Rapat Kerja Provinsi (Rakerprov) KONI Kaltim 2025 belum lama ini yang telah dilaksanakan di Samarinda, sempat ada dari Pengprov cabor mempertanahakan soal keberlanjutan TC Mandiri atlet Kaltim tahun ini.
Mengenai hal tersebut, Ketua Umum KONI Kaltim, Rusdiansyah Aras menjelaskan, bahwa keberlanjutan TC mandiri ini hanya tinggal menunggu penandatangan Naskah Perjanjian Hibah Daerah (NPHD) dengan Dispora Kaltim.
“Itu memang ada, cuma terhadap mereka yang meraih medali PON,” ucap Rusdiansyah Aras, kepada awak media.
Meski demikian, dirinya memberikan ada catatan penting, seperti cabor futsal putra yang sudah tidak masuk dalam Technical Handbook (THB), walaupun pada PON ke-21 di Sumut 2024 lalu meraih medali emas.
Sementara yang lain memang sudah didata, namun Ia menegaskan jika yang menerima nantinya sesuai dengan THB pada PON Nusa Tenggara ke-22 pada 2028 yang akan datang.
“Catatan itu, kita akan berikan. Untuk besarannya belum kita sampaikan, yang pasti adalah peraih medali. Tapi, sesuai dengan THB yang akan datang di PON,” ungkapnya.
Rusdi menjelaskan dengan memberikan contoh usia sesuai dengan THB dari tuan rumah PON.
“Kalau gak masuk THB, contohnya sekarang usianya 20, THBnya main di PON nanti 24, dia sudah 26. Itu gak bisa, karena kita seperti menggarami laut,” jelasnya.
Lebih lanjut, skema pemberian uang TC Mandiri kepada atlet peraih medali, selain berdasarkan THB, KONI Kaltim juga akan terus memantau progres atlet peraih medali.
Rusdi menyebut dalam setiap tahunnya akan dievaluasi jika atler tersebut tidak mendapatkan medali, maka tidak akan mendapatkan uang bulanan TC. Sebab, dirinya menegaskan bahwa atlet itu harus punya progres berkelanjutan.
“Setiap bulan, sampai nanti pertahun dilihat, kalau dia di kejurnasnya gak dapat medali ya hilang. Itu harus ada progres,” ujarnya.
Menurutnya progres atlet harus ditingkatkan setiap tahunnya, jika di PON mendapatkan emas, maka di kejurnasnya harus dipertahankan. Sebab KONI menggaungkan ‘Bangkit Berprestas’ menatap PON yang akan datang dengan atlet yang lebih berkualitas.
“Umpamanya (contohnya) dia dapat medali perak PONnya, begitu kejurnas gak dapat medali ya hilang dana TCnya itu. Memang tidak besar, tapi lumayan lah,” katanya Rusdi menjabarkan. (Dy)





