Kupas Tuntas Tiga Dosa Besar Pendidikan, Hetifah Ingatkan Peran Guru BK dan Orang Tua

Kupas Tuntas Tiga Dosa Besar Pendidikan, Hetifah Ingatkan Peran Guru BK dan Orang Tua

KALTIMEDIA.COM, SAMARINDA – Hadir sebagai narasumber, dalam seminar nasional dengan tema ‘Peran Pendidik dalam Menghadapi Isu Tiga Dosa Besar Pendidikan’, Wakil Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian mengungkapkan, terkait pentingnya peran guru bimbingan dan konseling (BK) serta orang tua.

Perundungan, kekerasan seksual, dan intoleransi merupakan tiga dosa besar yang tidak hanya menjadi momok menakutkan di dunia pendidikan Indonesia, melainkan telah menjadi isu global.

Mengupas satu per satu dari ketiga dosa tersebut, ia menjelaskan perundungan terjadi akibat bebasnya anak-anak mengakses platform yang menyediakan tontonan dengan unsur kekerasan.

Kemudian pada lingkungan tempat anak tumbuh dan berkembang yang senantiasa menunjukan gerak-gerik mengarah pada tindak perundungan.

Terkadang, anak-anak tersebut meniru perilaku perundungan hanya untuk bersenang-senang dan mengartikan hal tersebut sebagai candaan satu sama lain.

“Marak kejadian perundungan akan berdampak sangat besar pada psikis anak. Kalau tidak diatasi dengan benar bisa menetap dan menjadi kebiasaan oleh anak,” tuturnya.

Selanjutnya terkait kekerasan seksual, ia membeberkan data Asesmen Nasional oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) RI tahun 2023, di mana setiap satu dari tiga anak mengalami kekerasan seksual.

Dari 31,8 persen angka kekerasan seksual yang dialami oleh anak-anak disebabkan oleh orang-orang terpercaya dilingkup pendidikan dan tempat tinggal anak. Terutama oleh guru, dan pemilik pondok pesantren.

“Yang menyedihkan terduga pelaku 31,8 persen adalah guru atau pemilik, pemimpin ponpes. Dan Kepsek juga termasuk, sebanyak 13 persen. Kekerasan ini dengan dalih bermacam-macam,” terangnya.

Dosa besar yang kerap kali dianggap remeh, yakni intoleransi. Anak-anak di usia sekolah memang belum mengenal kata ‘perbedaan’ yang sesungguhnya.

Menganggap ada perbedaan pada dirinya ataupun teman sebayanya menimbulkan cemoohan sehingga mengurangi rasa percaya diri dan sulit beradaptasi di sekolah.

Ia menegaskan terkait peran penting seorang guru BK yang juga bagian dari tenaga pendidik. Besar tanggung jawab yang harus diemban para guru BK untuk memberikan pemahaman terhadap ketiga dosa besar tersebut.

“Di sini peran pentingnya guru BK. Kita saat ini kekurangan guru BK, bagaimana bisa menyelesaikan ini jika ada peran yang kosong di dalamnya?,” ucapnya.

Menanamkan akhlak dan adab yang baik, mengajarkan terkait edukasi seksual, menyampaikan bahwa terdapat segudang perbedaan yang membuat kehidupan menjadi unik dan menyenangkan. Dan bukannya sebuah hal buruk yang harus disingkirkan.

Tentu yang paling utama dan paling berperan sangat penting adalah orang tua. Orang tua menjadi guru dan madrasah pertama bagi anak-anak.

Ia mengingatkan kepada orang tua untuk terus belajar agar dapat memahami bagaimana perkembangan anak mereka baik di dalam rumah maupun di sekolah.

“Kembali lagi di mana peran orang tua sebagai madrasah pertama bagi anak-anak. Saya tahu betapa sulitnya menjadi orang tua. Tapi di situlah letak tanggung jawabnya untuk terus belajar,” pungkasnya. (As)

Share

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *