
Balikpapan, Kaltimedia.com – Kota Balikpapan mencatat inflasi sebesar 0,27 persen secara bulanan (month to month/mtm) pada Mei 2026. Kenaikan harga terutama dipengaruhi oleh meningkatnya tarif angkutan udara, solar non-subsidi, serta pelumas kendaraan.
Meski terjadi kenaikan harga, Bank Indonesia bersama Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) menilai kondisi inflasi masih terkendali berkat ketersediaan pasokan pangan dan berbagai program stabilisasi harga yang dijalankan pemerintah daerah.
Di sisi lain, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU) justru mencatat deflasi sebesar 0,06 persen (mtm) selama periode yang sama. Kondisi tersebut didukung stabilnya pasokan sejumlah komoditas pangan strategis menjelang Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Iduladha.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Balikpapan, Robi Ariadi, mengatakan perkembangan inflasi di Balikpapan maupun PPU masih berada dalam rentang yang sehat dan sesuai target inflasi nasional.
“Perubahan harga di kedua wilayah tercatat masih dalam level yang terjaga dan terkendali. Kondisi ini didukung oleh ketersediaan pasokan dan stok berbagai komoditas pangan strategis serta konsistensi berbagai upaya pengendalian inflasi daerah melalui sinergi TPID,” ujar Robi dalam siaran pers yang diterima, Kamis (4/6/2026).
Secara tahunan atau year on year (yoy), inflasi Balikpapan tercatat sebesar 2,75 persen. Sementara inflasi Kabupaten PPU mencapai 2,33 persen. Angka tersebut masih berada di bawah inflasi nasional yang tercatat sebesar 3,08 persen maupun inflasi gabungan empat kota di Kalimantan Timur sebesar 3,04 persen.
Berdasarkan data Bank Indonesia, kelompok transportasi menjadi penyumbang terbesar inflasi Balikpapan dengan andil mencapai 0,43 persen. Komoditas yang memberikan kontribusi terbesar terhadap kenaikan harga antara lain angkutan udara, pelumas atau oli mesin, roti manis, beras premium, dan solar non-subsidi.
Kenaikan tarif penerbangan dipicu oleh penyesuaian fuel surcharge penerbangan domestik yang mulai berlaku pada pertengahan Mei 2026 seiring meningkatnya harga avtur. Selain itu, tingginya mobilitas masyarakat selama beberapa periode libur panjang pada bulan Mei turut mendorong permintaan jasa transportasi udara.
Pada saat yang sama, harga solar non-subsidi dan pelumas kendaraan juga mengalami kenaikan akibat meningkatnya harga minyak dunia. Sementara harga beras premium dan roti manis terdorong oleh naiknya biaya distribusi dan kemasan.
“Kenaikan permintaan selama periode HBKN Iduladha dan long weekend masih dapat dipenuhi dengan baik melalui berbagai pelaksanaan gerakan pangan murah, pasar murah, maupun operasi pasar sehingga tidak menimbulkan gejolak harga yang tinggi,” kata Robi.
Meski demikian, sejumlah komoditas turut memberikan kontribusi terhadap penurunan inflasi di Balikpapan. Komoditas tersebut meliputi bahan bakar rumah tangga, kangkung, emas perhiasan, daging ayam ras, dan tomat.
Penurunan harga bahan bakar rumah tangga didukung oleh pelaksanaan operasi pasar yang menjangkau seluruh kecamatan di Balikpapan. Sementara meningkatnya pasokan dari daerah sentra produksi turut menekan harga daging ayam ras dan tomat.
Untuk wilayah PPU, deflasi terutama berasal dari kelompok makanan, minuman, dan tembakau. Beberapa komoditas yang mengalami penurunan harga antara lain daging ayam ras, ikan tongkol, cabai rawit, udang basah, dan tomat karena pasokan yang relatif melimpah.
Namun demikian, sejumlah komoditas di PPU masih mencatat kenaikan harga seperti beras, buncis, solar, sawi hijau, dan sigaret kretek mesin. Kenaikan tersebut dipengaruhi oleh meningkatnya biaya distribusi, biaya kemasan, serta keterbatasan pasokan pada beberapa komoditas tertentu.
Menghadapi periode berikutnya, Bank Indonesia mengingatkan adanya potensi risiko inflasi yang berasal dari musim kemarau. Kondisi cuaca tersebut berpotensi memengaruhi produksi pertanian di Kalimantan Timur maupun Pulau Jawa yang selama ini menjadi daerah pemasok utama kebutuhan pangan.
“Kami meyakini inflasi di Balikpapan dan PPU akan tetap terkendali dalam sasaran inflasi nasional tahun 2026 sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen. Sinergi bersama pemerintah daerah dan seluruh anggota TPID akan terus diperkuat untuk menjaga stabilitas harga dan ketahanan pangan daerah,” tegas Robi.
Sepanjang Mei 2026, berbagai langkah pengendalian inflasi terus dilakukan oleh pemerintah daerah bersama TPID. Program tersebut meliputi pelaksanaan Gerakan Pangan Murah sebanyak 11 kali di Balikpapan, enam kali operasi pasar di PPU, empat kali operasi pasar di Kabupaten Paser, serta operasi pasar bahan bakar rumah tangga di seluruh kecamatan Kota Balikpapan.
Melalui berbagai upaya tersebut, pemerintah berharap stabilitas harga tetap terjaga, daya beli masyarakat dapat dipertahankan, dan risiko inflasi akibat kenaikan harga energi global maupun gangguan pasokan pangan dapat diminimalkan. (Pcm)
Editor: Ang



