
Jakarta, Kaltimedia.com — Daya Anagata Nusantara (Danantara) mulai mematangkan model bisnis proyek peternakan ayam senilai Rp20 triliun dengan fokus awal di enam lokasi. Langkah ini menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk menekan dominasi segelintir korporasi dalam industri ayam nasional.
Chief Operating Officer Danantara, Dony Oskaria, menyatakan bahwa proses groundbreaking di enam titik tersebut telah berjalan. Namun, ekspansi ke lokasi baru belum akan dilakukan dalam waktu dekat.
“Kita ingin protein berkecukupan dan inginnya harganya lebih affordable atau terjangkau bagi masyarakat Indonesia,” ujar Dony di Hotel Mulia, Selasa (28/4/2026).
Ia menegaskan, proyek ini akan dievaluasi terlebih dahulu dari sisi model bisnis sebelum diperluas.
“Sementara masih enam ini, akan kita lihat dulu bisnis modelnya. Setelah itu kita akan lihat, kalau misal menguntungkan, kita akan buka lagi,” katanya.
Program ini juga dikaitkan dengan agenda prioritas Presiden Prabowo Subianto, khususnya program Makan Bergizi Gratis (MBG), serta penguatan ketahanan pangan nasional.
Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, mengungkapkan bahwa sekitar 70 persen industri ayam dan telur nasional saat ini dikuasai hanya oleh dua perusahaan besar.
Ia bahkan menyebut perputaran ekonomi sektor tersebut mencapai ratusan triliun rupiah, dengan sebagian besar terkonsentrasi pada segelintir pelaku usaha.
“Ini yang menguasai hanya dua perusahaan aku tidak sebut. Nilainya ini Rp554 triliun [perputaran uang dari industri ayam dan telur secara keseluruhan], setelah ada MBG Rp653 triliun. Artinya, hampir Rp400 triliun, Rp380 triliun, itu dua orang,” ujarnya.
Menurut Amran, kondisi tersebut menjadi tantangan serius bagi kedaulatan ekonomi rakyat.
“Kapan rakyat ini berdaulat? Kapan ekonomi rakyat ini bergerak?” katanya.
Di sisi lain, Dony juga menyinggung persoalan mendasar terkait ketahanan pangan Indonesia. Ia menilai konversi lahan pertanian menjadi kawasan komersial semakin tidak terkendali.
“Coba kita lihat di beberapa daerah. Gampang sekali, dulu sawah sekarang sudah jadi bangunan. Bahkan ada yang akibatnya jadi macet,” ungkapnya.
Ia mencontohkan fenomena yang terjadi di Bali, di mana lahan pertanian terus berkurang akibat pembangunan.
“Dan itu di banyak daerah lainnya. Menyebabkan kita memiliki ketergantungan hanya untuk pangan saja kita harus ketergantungan dengan negara lain,” tambah Dony.
Sebagai respons, pemerintah mendorong berbagai program seperti pencetakan sawah baru, penguatan irigasi, hingga pengembangan komoditas jagung dan bawang untuk mengurangi impor.
Dony juga mengungkapkan bahwa Perum Bulog saat ini bahkan mengalami keterbatasan kapasitas gudang karena tingginya serapan hasil pertanian.
“Inilah alasan kenapa kemudian kita harus memiliki ketahanan di bidang pangan dengan swasembada di bidang pangan,” tutupnya. (Ang)





