Kaltim Berpotensi Dilanda “Godzilla El Nino” hingga Oktober 2026, Risiko Karhutla Meningkat

Gambar saat ini: Foto: Seorang petugas melakukan penyiraman di lokasi titik panas di hutan. Sumber: Istimewa.
Foto: Seorang petugas melakukan penyiraman di lokasi titik panas di hutan. Sumber: Istimewa.

Paser, Kaltimedia.com – Provinsi Kalimantan Timur diperkirakan akan menghadapi musim kemarau panjang sepanjang April hingga Oktober 2026. Fenomena ini disebut sebagai “Godzilla El Nino”, yang berpotensi membawa dampak signifikan terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat.

Indikasi awal sudah mulai terlihat, seperti peningkatan suhu udara dan menurunnya intensitas hujan di sejumlah wilayah. Kondisi ini memperkuat potensi terjadinya kekeringan berkepanjangan yang dapat memicu kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Kepala UPTD KPHP Telake, Shahar Al Haqq, menyebut fenomena El Nino ekstrem ini diperkirakan berlangsung cukup lama.

“Tahun 2026 ini, kita menghadapi El Nino yang cukup panjang, dari bulan April sampai dengan Oktober,” ujarnya, Senin (13/4/2026).

Dengan durasi kemarau yang lebih panjang dari biasanya, risiko kebakaran hutan dan lahan diprediksi meningkat secara signifikan.

Selain meningkatkan potensi karhutla, perubahan cuaca ekstrem juga berpotensi mengganggu ketahanan pangan masyarakat. Berkurangnya curah hujan dapat menyebabkan ketersediaan air menurun dan produktivitas lahan ikut terdampak.

Meski demikian, tidak semua wilayah terdampak sama. Beberapa kawasan di Kabupaten Paser, khususnya di Kecamatan Muara Komam seperti Desa Prayon, Muara Payang, dan Long Sayo, dinilai relatif lebih tahan terhadap dampak kemarau panjang.

Wilayah yang berada di kaki Gunung Lumut dengan tutupan hutan yang masih baik disebut memiliki kondisi mikroklimat yang lebih stabil.

“Karena hutannya cukup bagus wilayah-wilayah ini tidak mengenal musim, jadi walaupun sekarang dianggap musim kemarau, di wilayah-wilayah ini tetap terjadi hujan,” jelas Shahar.

Meski risiko di wilayah tersebut lebih kecil, potensi kebakaran tetap ada. Oleh karena itu, peningkatan kesiapsiagaan masyarakat menjadi hal yang krusial.

Shahar menekankan pentingnya peran Masyarakat Peduli Api (MPA) sebagai garda terdepan dalam pencegahan dan penanganan karhutla di tingkat desa. (Dy)

Editor: Ang

Share

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *