Sehari Rp12,7 Juta Terkumpul: Rasminah dan Kekuatan Sunyi Solidaritas Warga

Foto: Aksi Solidaritas Komunitas Kaltim Kind daam membantu Rasminah, seorang penjual pisang di Samarinda. Sumber: Istimewa.
Foto: Aksi Solidaritas Komunitas Kaltim Kind daam membantu Rasminah, seorang penjual pisang di Samarinda. Sumber: Istimewa.

Samarinda, Katimedia.com — Tidak semua perubahan besar lahir dari rencana besar. Kadang, ia justru berawal dari percakapan sederhana di rumah kecil yang nyaris luput dari perhatian.

Itulah yang terjadi pada Rasminah, seorang penjual pisang di Samarinda.
Sebuah video memperlihatkan pertemuannya dengan Wawan Irawan dan rekannya.

Tidak ada yang dramatis. Hanya percakapan biasa—hingga kemudian terungkap bahwa pendengaran Rasminah kian menurun.

Namun justru dari momen sederhana itulah, gelombang besar bermula.

Melalui komunitas Kaltim Kind, Wawan menginisiasi penggalangan dana. Respons masyarakat datang begitu cepat—seolah publik sudah lama menunggu ruang untuk peduli.

Dalam waktu kurang dari satu hari, donasi mencapai Rp12.706.345.

“Yang kami lihat bukan hanya angka, tapi kepercayaan. Masyarakat masih peduli, hanya butuh jembatan,” kata Wawan.

Kaltim Kind berperan sebagai jembatan itu.

Komunitas ini diisi oleh anak-anak muda yang percaya bahwa solidaritas tidak boleh berhenti sebagai wacana. Mereka memilih turun langsung, mengorganisasi bantuan, dan memastikan setiap rupiah memiliki arti.
Gerakan ini juga mendapat dukungan dari Irma Suryani, yang selama ini aktif dalam kegiatan kemanusiaan.

Menurutnya, fenomena ini menunjukkan satu hal penting: masyarakat sebenarnya tidak kehilangan empati.

“Kita hanya perlu lebih banyak ruang yang mempertemukan kepedulian dengan kebutuhan nyata,” ujarnya.

Irma menambahkan, aksi seperti ini perlu diperluas agar tidak berhenti sebagai momentum sesaat, melainkan berkembang menjadi gerakan sosial yang berkelanjutan.

Apa yang terjadi pada Rasminah menjadi pengingat bahwa solidaritas tidak selalu hadir dalam bentuk besar dan megah. Ia bisa tumbuh dari hal kecil—dari cerita, dari empati, dari keberanian untuk peduli.

Kaltim Kind sendiri sebelumnya telah melakukan aksi serupa, membantu seorang lansia bernama Mbah Win. Dari sana, mereka belajar bahwa kebaikan memiliki efek berantai.
Hari ini Rasminah.
Besok, mungkin orang lain.
Dan selama masih ada yang mau bergerak, harapan itu akan tetap hidup. (Ang)

Share

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *