
Samarinda, Kaltimedia.com – Ancaman terhadap jurnalis kembali terjadi setelah jurnalis lingkungan asal Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, Budi Baskoro, mendapat intimidasi usai mengunggah ajakan nonton bareng film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita di TikTok.
Budi mengaku menerima pesan bernada ancaman melalui WhatsApp pada Selasa (12/5/2026), beberapa hari setelah kegiatan nobar dilaksanakan. Dalam pesan tersebut, pengirim meminta unggahan TikTok dihapus dan mengancam Budi akan mengalami nasib serupa dengan aktivis Andrie Yunus yang sebelumnya menjadi korban penyiraman cairan kimia.
“Jika tidak, jangan terkejut kalau kejadian Andrie Yunus akan terjadi kepada anda!” demikian isi ancaman yang diterima Budi.
Nomor pengirim diketahui menggunakan identitas yang mengatasnamakan Direktorat Tindak Pidana Siber Polri. Ancaman itu juga disebut turut dikirim kepada kerabat Budi di Yogyakarta.
Ketua Aliansi Jurnalis Independen Persiapan Banjarmasin, Rendy Tisna, mengecam tindakan intimidatif tersebut dan memastikan AJI bersama jaringan organisasi jurnalis akan melaporkan kasus itu ke Mabes Polri.
Menurut Rendy, ancaman tersebut merupakan bentuk pembungkaman terhadap kebebasan berekspresi dan kerja jurnalistik. AJI juga mendesak aparat penegak hukum segera mengusut pelaku serta motif di balik intimidasi tersebut.
Sementara itu, kelompok kolaborator film Pesta Babi dari Watchdoc mencatat sedikitnya 21 insiden intimidasi selama pemutaran film di berbagai daerah. Bentuk intimidasi disebut mulai dari pemantauan aparat, pembubaran acara nobar, hingga tekanan terhadap penyelenggara.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra menegaskan pemerintah tidak pernah melarang pemutaran maupun nobar film tersebut. Ia menilai kritik dalam film masih tergolong wajar meski judulnya dinilai provokatif.
Film dokumenter Pesta Babi: Kolonialisme di Zaman Kita sendiri mengangkat isu Papua, mulai dari proyek strategis nasional, deforestasi, hingga persoalan masyarakat adat. Salah satu sutradaranya, Cypri Paju Dale, menyebut film tersebut dibuat berdasarkan riset sejarah, antropologi, investigasi jurnalistik, dan analisis kebijakan publik. (Ang)





