
Jakarta, Kaltimedia.com – Perusahaan utilitas listrik di sejumlah negara Asia mulai bersiap menghadapi potensi gangguan pasokan energi setelah penambang di Indonesia berencana menghentikan sementara ekspor batu bara spot. Langkah ini merupakan bentuk protes terhadap rencana pemerintah Indonesia yang akan membatasi produksi melalui skema kuota.
Dikutip dari Reuters, Kamis (5/2/2026), seorang pejabat industri pertambangan Indonesia menyatakan bahwa ekspor batu bara yang terikat kontrak jangka panjang masih berjalan normal. Namun, pengiriman spot akan dibatasi hingga pemerintah mengeluarkan keputusan final terkait kebijakan kuota produksi.
Ia juga mengingatkan bahwa sebagian kontrak jangka panjang berpotensi ikut terdampak apabila ketidakpastian berkepanjangan dan kondisi di lapangan memburuk.
Indonesia merupakan produsen batu bara terbesar dunia dan menyuplai sekitar 50 persen dari total ekspor batu bara termal global pada 2025. Negara ini menjadi pemasok utama bagi China, India, Vietnam, Filipina, dan sejumlah negara Asia lainnya.
Tekanan Harga Picu Wacana Pembatasan Produksi
Dalam beberapa bulan terakhir, harga batu bara global berada di bawah tekanan. Kondisi tersebut mendorong pemerintah Indonesia mengkaji pembatasan produksi dengan tujuan menopang harga ekspor serta meningkatkan penerimaan negara.
Namun, wacana ini mendapat penolakan dari pelaku industri. Sejumlah perusahaan tambang memperingatkan bahwa pembatasan produksi berisiko memicu pemutusan hubungan kerja (PHK) dan penutupan tambang, sehingga meningkatkan tekanan ekonomi dan sosial.
Situasi ini mendorong pemerintah dan industri untuk segera mencari titik temu sebelum gangguan ekspor meluas dan berdampak pada pasar internasional.
Harga Batu Bara Mulai Merangkak Naik
Indonesia sebelumnya pernah menghentikan ekspor batu bara pada 2022 akibat krisis pasokan domestik. Kebijakan tersebut memicu lonjakan tajam harga batu bara global.
Dampak serupa mulai terlihat kembali. Harga batu bara termal Asia tercatat naik sekitar 9 persen dan menyentuh level tertinggi dalam lebih dari satu tahun.
“Pelaku pasar memperkirakan harga masih berpotensi menguat jika gangguan pasokan dari Indonesia berlanjut, seiring negara-negara importir berupaya mengamankan pasokan alternatif,” tulis kolumnis Reuters, Gavin Maguire.
Ketergantungan Tinggi Negara Asia
Data perusahaan komoditas Kpler menunjukkan, sepanjang 2025 terdapat 16 negara yang mengimpor sedikitnya 1 juta metrik ton batu bara termal dari Indonesia. Negara-negara tersebut mencakup sebagian besar konsumen batu bara terbesar dunia.
Meski China dan India masih mengandalkan produksi domestik untuk memenuhi kebutuhan utama, banyak negara Asia Tenggara dan Asia Selatan hampir sepenuhnya bergantung pada impor batu bara. Di kawasan ini, batu bara masih menjadi tulang punggung sistem kelistrikan.
“Tekanan pasokan muncul di saat utilitas listrik Asia menghadapi lonjakan permintaan musiman dan masih mengandalkan batu bara untuk lebih dari separuh produksi listrik regional,” ujar Maguire.
Filipina hingga Vietnam Paling Rentan
Filipina, Bangladesh, Vietnam, dan Malaysia dinilai sebagai negara paling rentan terdampak gangguan ekspor batu bara Indonesia.
Filipina mengimpor sekitar 98 persen kebutuhan batu baranya dari Indonesia pada 2025, dengan batu bara menyumbang sekitar 57 persen produksi listrik nasional. Bangladesh memperoleh lebih dari 90 persen impor batu bara dari Indonesia, sementara porsi batu bara dalam bauran listriknya mencapai rekor tertinggi.
Malaysia dan Vietnam juga bergantung pada Indonesia untuk lebih dari separuh impor batu bara mereka, dengan kontribusi batu bara mencapai 40 persen atau lebih dalam bauran energi nasional.
Dampak Berpotensi Meluas
Gangguan pasokan juga berpotensi menjalar ke pasar yang relatif kurang bergantung pada impor, seperti China dan India. Sejumlah pembangkit listrik besar di kedua negara berlokasi dekat pelabuhan dan selama ini memilih batu bara impor karena lebih efisien secara biaya.
Jika harga internasional terus naik, pembangkit tersebut dapat beralih ke pasokan domestik, meski harus menanggung biaya logistik lebih tinggi akibat penggunaan transportasi darat.
“Meski Asia Tenggara dan Asia Selatan kemungkinan menjadi pihak pertama yang terdampak, gangguan ekspor batu bara Indonesia berisiko memengaruhi stabilitas pasokan listrik di seluruh Asia,” tulis Maguire. (Ang)



