
Paser, Kaltimedia.com – Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Kabupaten Paser mulai memanaskan mesin organisasi jelang perhelatan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Kaltim VIII yang akan digelar pada November 2026. Sebagai tuan rumah, FPTI Paser menargetkan persiapan atlet dilakukan secara serius dan berkelanjutan.
Ketua Pengcab FPTI Paser, Zulfikar Yusliskatin, mengakui bahwa kepengurusan panjat tebing di Paser sempat lama vakum. Kondisi tersebut membuat organisasi harus dibangun kembali dari awal, baik dari sisi pembinaan atlet maupun penguatan struktur kepengurusan.
“Karena baru lahir kembali, maka fokus awal ini pembinaan atlet serta struktur organisasi. Pondasi sebuah cabor itu harus kuat, terutama SDM-nya,” ujar Zulfikar saat ditemui oleh awak media, Sabtu (20/12/2025).
Ia menekankan pentingnya peningkatan kapasitas sumber daya manusia, khususnya pelatih dan ofisial. Menurutnya, pengalaman dan pembaruan pengetahuan sangat dibutuhkan agar pembinaan atlet berjalan sesuai perkembangan zaman.
“Makanya kemarin di samping ada kejuaraan saya sarankan kepada teman-teman baik di ofisial maupun kepengurusan ikut juga kalau ada pelatihan pelatih struktur. Untuk apa? Supaya teman-teman ini yang lama vakum bisa meng-upgrade teknis setelah kerja latihan,” ungkapnya.
Zulfikar menyebutkan bahwa pola latihan panjat tebing saat ini sangat mungkin berbeda dibandingkan beberapa tahun lalu. Karena itu, ia mendorong seluruh pengurus dan pelatih agar aktif mengikuti pelatihan instruktur maupun kepelatihan jika ada kesempatan.
“Mungkin beda pola latihan atlet panjat tebing yang dulu dengan yang sekarang. Bisa jadi ada perubahan-perubahan. Makanya saya berharap teman-teman yang masuk di struktur itu, ketika ada peluang pelatihan instruktur atau pelatih, ikut terlibat,” jelasnya.
Terkait rencana mendatangkan pelatih berlisensi dari luar daerah, Zulfikar tidak menampiknya. Namun, menurutnya langkah tersebut masih akan dipertimbangkan setelah roda organisasi benar-benar berjalan stabil.
“Mau mengambil pelatih dari luar memang ada rencana ke arah sana. Tapi untuk sementara saya lebih mengedepankan bagaimana menghidupkan organisasi cabor FPTI ini dulu,” katanya.
Ia juga menegaskan bahwa panjat tebing merupakan cabang olahraga yang memiliki tingkat risiko tinggi dan menuntut kondisi fisik prima. Oleh karena itu, pembinaan atlet tidak bisa dilakukan secara instan dan membutuhkan proses latihan yang disiplin serta berkelanjutan.
“Cabor ini cukup ekstrem, berbeda dengan cabor lain. Butuh latihan fisik yang keras dan berbagai aspek pendukung lainnya,” ucap Zulfikar.
Saat ini, para atlet FPTI Paser masih menjalani latihan di area Kompleks Kantor Bupati Paser. Namun, fasilitas tersebut diakui sudah kurang layak karena kondisinya yang usang.
Zulfikar berharap pembangunan venue panjat tebing baru di Kompleks GOR Sadurengas dapat segera rampung. Dengan fasilitas yang memadai, ia optimistis atlet dapat berlatih dengan lebih aman, fokus, dan maksimal dalam menatap Porprov Kaltim 2026. (Dy)
Editor: Ang



