Istana Respons Pelemahan Rupiah ke Rp18.049 per Dolar AS, Pemerintah Klaim Fundamental Ekonomi Tetap Kuat

Gambar saat ini: Foto: Mata uang Rupiah dan Dollar AS. Sumber: Istimewa.
Foto: Mata uang Rupiah dan Dollar AS. Sumber: Istimewa.

Jakarta, Kaltimedia.com – Pemerintah angkat bicara terkait pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang terus berlanjut dalam beberapa waktu terakhir. Istana Negara memastikan koordinasi antarotoritas ekonomi terus dilakukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar dan mengantisipasi berbagai risiko yang muncul dari gejolak pasar keuangan global.

Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg), Prasetyo Hadi, mengatakan pemerintah melalui Kementerian Keuangan, Bank Indonesia (BI), dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus melakukan pemantauan secara intensif terhadap perkembangan nilai tukar rupiah.

“Berkenaan dengan masalah rupiah, kami pemerintah dalam hal ini kementerian keuangan, kemudian Bank Indonesia, kemudian juga Otoritas Jasa Keuangan terus berkoordinasi secara intens untuk terus memonitor dan kemudian melakukan langkah-langkah,” ujar Prasetyo di Kompleks Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis (4/6/2026).

Menurutnya, pemerintah akan terus mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional sekaligus meredam dampak dari tekanan eksternal yang memengaruhi pergerakan nilai tukar.

Meski rupiah mengalami pelemahan, Prasetyo menegaskan kondisi fundamental ekonomi Indonesia masih berada pada level yang kuat. Hal tersebut tercermin dari sejumlah indikator ekonomi makro yang dinilai masih menunjukkan kinerja positif.

“Maka yang bisa kami sampaikan adalah bahwa kami harus yakin bahwa sesungguhnya fundamental ekonomi yang tergambar dari pertumbuhan ekonomi, kemudian dari inflasi yang masih terjaga Insya Allah sesungguhnya kita memiliki fundamental ekonomi yang cukup kuat,” tegasnya.

Pemerintah mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026 mencapai 5,61 persen secara tahunan (year on year/yoy). Sementara itu, tingkat inflasi nasional pada Mei 2026 berada di angka 3,08 persen (yoy), yang masih dinilai berada dalam rentang yang terkendali.

Rupiah Ditutup di Level Rp18.049 per Dolar AS

Di pasar keuangan, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah pada perdagangan Kamis (4/6/2026). Rupiah berada di level Rp18.049 per dolar AS atau turun 82 poin dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di level Rp17.967 per dolar AS.

Pelemahan tersebut menjadi perhatian pelaku pasar karena terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global dan tekanan terhadap sejumlah mata uang negara berkembang.

Pengamat mata uang Ibrahim Assuaibi menilai pelemahan rupiah dipengaruhi kombinasi faktor eksternal dan domestik. Dari sisi internal, pasar mencermati potensi meningkatnya tekanan terhadap fiskal akibat tingginya harga minyak mentah dunia.

Menurut Ibrahim, kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran terhadap potensi melebarnya defisit fiskal dan meningkatnya kebutuhan belanja pemerintah untuk menjaga stabilitas ekonomi.

“Sementara itu, data perdagangan April menunjukkan surplus memudar karena biaya impor minyak yang melonjak tinggi melampaui ekspor. Inflasi Mei meningkat menjadi 3,08 persen, di atas titik tengah target bank sentral dampak dari kenaikan harga-harga barang impor,” ujarnya dalam keterangan tertulis.

Selain itu, pasar juga disebut mencermati sejumlah sentimen lain, termasuk potensi reklasifikasi pasar modal Indonesia oleh MSCI serta perkembangan terbaru terkait penilaian lembaga pemeringkat internasional terhadap sejumlah institusi investasi nasional.

Ibrahim menambahkan bahwa Moody’s Ratings baru-baru ini memberikan peringkat perdana kepada PT Danantara Investment Management pada level Baa2. Langkah tersebut turut menjadi perhatian investor dalam membaca arah kebijakan dan prospek investasi di Indonesia.

Meski menghadapi tekanan nilai tukar, pemerintah menegaskan akan terus memperkuat koordinasi kebijakan fiskal, moneter, dan sektor keuangan guna menjaga stabilitas ekonomi nasional serta kepercayaan pelaku pasar terhadap perekonomian Indonesia. (Ang)

Share

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *