
CEGAH KEKERASAN – Ilustrasi. Cegah terjadinya kekerasan anak dan remaja, Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Balikpapan menguatkan kegiatan edukasi serta konseling di sekolah. Sumber foto: Net
BALIKPAPAN – Cegah terjadinya kekerasan anak dan remaja, Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) Balikpapan menguatkan kegiatan edukasi serta konseling di sekolah.
Konseling tahun ini difokuskan di tingkat SMA/SMK. Sebab, pelajar tingkat SMA/SMK merupakan usia remaja yang rawan terhadap berbagai bentuk kekerasan, baik fisik, verbal, maupun sosial.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala DP3AKB Kota Balikpapan, Nursyamsiarni D. Larose, mengatakan bahwa kegiatan ini merupakan bagian dari upaya berkelanjutan dalam membangun pemahaman bersama antara pemerintah, sekolah dan masyarakat tentang pentingnya pola asuh dan lingkungan yang aman bagi anak.
“Sekolah memiliki peran strategis dalam pembentukan karakter anak. Karena itu, kami mengundang guru Bimbingan Konseling (BK) untuk mengikuti edukasi dan penguatan kapasitas agar mereka lebih siap menghadapi dinamika permasalahan remaja,” ujarnya beberapa waktu lalu.
Kegiatan ini melibatkan sekitar 60 sekolah SMA/SMK di Kota Balikpapan. Meski belum dapat menjangkau seluruh sekolah karena adanya penyesuaian anggaran, kegiatan ini diharapkan mampu memperluas pemahaman guru BK tentang deteksi dini kasus kekerasan dan peran mereka sebagai pelindung siswa di lingkungan sekolah.
“Guru BK pada dasarnya sudah memiliki kapasitas yang baik, tapi dengan perkembangan zaman dan terbukanya akses informasi, tantangan dalam mendidik anak semakin kompleks. Karena itu, kita perlu terus memperkuat kemampuan mereka dalam menghadapi kondisi sosial dan perilaku remaja saat ini,” jelasnya.
Nursyamsiarni menambahkan, kegiatan ini juga menjadi sarana komunikasi, informasi, dan edukasi (KIE) yang melibatkan banyak pihak. Ia menegaskan, edukasi tentang pencegahan kekerasan dan pola asuh yang sehat tidak boleh berhenti hanya di satu kegiatan.
“Semua pihak harus berperan mulai dari keluarga, sekolah, hingga lingkungan sekitar. Pendidikan anak bukan tanggung jawab satu pihak saja. Orang tua, guru, dan masyarakat perlu saling mendukung agar anak tumbuh di lingkungan yang aman dan positif,” tegasnya.
Lebih jauh, ia menekankan pentingnya pondasi nilai agama dan moral sebagai dasar dalam menghadapi derasnya arus informasi di era digital.
Menurutnya, penguatan karakter anak dan remaja hanya bisa berhasil jika ada keseimbangan antara pendidikan formal, keluarga, dan nilai spiritual.
“Godaan di era informasi terbuka ini luar biasa besar. Karena itu, kita perlu membangun anak-anak kita dengan pondasi moral dan agama yang kuat agar mereka mampu memilih yang benar dan menjaga dirinya dari hal-hal negatif,” tutup Nursyamsiarni. (adv/pry)



