Stunting Turun, Tapi Belum Aman: DPRD Samarinda Minta Aksi Bersama Tangani Akar Masalah

Wakil Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Sri Puji Astuti.

Samarinda – Penurunan angka stunting di Kota Samarinda mulai menunjukkan hasil, namun tantangan besar masih mengadang.

Walaupun diketahui saat ini data terakhir pada angka prevalensi turun dari 24,4 persen pada 2023 menjadi 20,3 persen di 2024, posisi Samarinda masih jauh dari target nasional sebesar 14 persen.

Wakil Ketua Komisi IV DPRD Samarinda, Sri Puji Astuti menilai keberhasilan ini belum cukup menjadi alasan berpuas diri. Ia menekankan pentingnya kerja kolektif lintas sektor untuk mencapai hasil yang lebih signifikan dalam waktu yang lebih cepat.

“Penanganan stunting tak bisa diserahkan pada satu instansi. Ini kerja bersama yang butuh koordinasi kuat,” ujarnya, Selasa (29/7/2025

Menurut Sri Puji, keberhasilan program pencegahan stunting sangat bergantung pada sinergi antar Organisasi Perangkat Daerah (OPD).

Masing-masing memiliki peran yang saling melengkapi, mulai dari pelayanan kesehatan, pendidikan keluarga, hingga pemenuhan gizi anak.

Ia juga menyebut bahwa DPRD siap mengawal dan mendukung program percepatan penanganan stunting, termasuk dalam pengalokasian anggaran daerah.

“Kami dorong betul penguatan anggaran untuk program-program yang langsung menyentuh kebutuhan dasar anak-anak dan ibu hamil,” tambahnya.

Namun demikian, ia mengingatkan masih lemahnya koordinasi di lapangan. Banyak OPD menjalankan program secara sektoral tanpa arah kolaboratif yang jelas.

Tanpa koordinasi, kata Sri Puji, upaya yang dilakukan akan berisiko tumpang tindih atau justru tak efektif menjangkau kelompok sasaran.

Ia pun mendorong agar pemkot membangun satu kerangka kerja terpadu untuk menuntaskan persoalan stunting. Kesamaan visi dan strategi di antara pemangku kepentingan dinilai mutlak diperlukan.

“Kalau kita ingin percepatan, maka jangan kerja sendiri-sendiri. Harus duduk bersama dan berbagi peran dengan jelas,” ujarnya.

Sri Puji berharap kolaborasi yang selama ini mulai terbentuk bisa diperkuat, sehingga target nasional bukan sekadar angka, tetapi menjadi pencapaian nyata.

“Anak-anak ini investasi masa depan. Jangan sampai terlambat menanganinya,” pungkasnya. (Adv)

Share

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *