Kegiatan PTM 11 Januari Batal, Hanya 3 Sekolah yang Diizinkan

Wali Kota Balikpapan, Rizal Effendi

BALIKPAPAN – Satuan Gugus Tugas (Satgas) Covid-19 Kota Balikpapan menunda pembukaan kembali kegiatan belajar mengajar secara tatap muka di sekolah, yang sejatinya berlangsung pada 11 Januari 2021 mendatang. Hal tersebut menyusul kebijakan Kementerian Pendidikan Republik Indonesia, dimana rencana kegiatan belajar mengajar secara tatap muka dihentikan sementara.

“Kita mempertimbangkan perkembangan aspirasi masyarakat, kebijakan dari pemerintah provinsi serta kebijakan dari pemerintah pusat, pasti akan sejalan dengan kebijakan tersebut,” ungkap Wali Kota Balikpapan, Rizal Effendi selaku Ketua Satuan Gugus Tugas Covid-19 Kota Balikpapan, Senin (4/1/2021).

Tambahnya, Pemerintah Provinsi juga telah mengeluarkan kebijakan untuk menunda rencana kegiatan belajar mengajar secara tatap untuk tingkat SMA/SMK sederajat, pada awal Januari ini.

“Kita akan menindaklanjuti hal tersebut, tapi nanti kita akan umumkan secara resmi,” ucapnya.

Namun begitu, diketahui ada tiga sekolah yang mengajukan pembelajaran tatap muka (PTM) lantaran berada di wilayah blank spot. Sehingga tidak memungkinkan untuk belajar dengan metode jarak jauh.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Balikpapan, Muhaimin mengatakan tiga sekolah yang telah mengajukan tersebut adalah SMPN 021 dan SD 021 di Teluk Waru, Kelurahan Kariangau, Balikpapan Barat serta SMPN 014 di Waduk Tritip.

“Ada tiga sekolah karena memang di daerah blank spot, tidak ada jaringan. Mereka sudah mengajukan dan tetap melakukan tatap muka,” ucap Muhaimin.

Pertimbangan lainnya, jumlah siswa di tiga sekolah tersebut juga tidak terlalu banyak. Sehingga memungkinkan untuk tatap muka.

“Tidak terlalu banyak. Misalnya di SD 021 itu muridnya enggak sampai 60, begitu juga dengan SMP-nya. Jadi kalau belajarnya per kelompok lima orang itu masih memungkinkan,” serunya.

Nantinya para siswa akan datang ke sekolah secara bergantian dengan maksimal lima orang dalam satu kali pertemuan.

“Maksimal lima orang, jadi bergantian. Kemudian bisa juga gurunya yang melakukan visit ke rumah siswa,” jelasnya. (pcm)

Share

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *