Pentas Seni PAUD Balikpapan Jadi Pengingat Pentingnya Peran Orang Tua di Era Gawai

Bunda PAUD Kota Balikpapan, Nurlena Rahmad Mas’ud memberikan souvenir kepada peserta Pentas Seni Kelompok Bermain Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) se-Kota Balikpapan Tahun Ajaran 2025/2026 yang berlangsung di Gedung Balikpapan Sport and Convention Center (BSCC) Dome, Selasa (19/5/2026).

KALTIMEDIA.COM, BALIKPAPAN – Suasana penuh warna dan keceriaan mewarnai Pentas Seni Kelompok Bermain Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) se-Kota Balikpapan Tahun Ajaran 2025/2026 yang berlangsung di Gedung Balikpapan Sport and Convention Center (BSCC) Dome, Selasa (19/5/2026). Di balik penampilan anak-anak dengan beragam kostum profesi dan pakaian adat nusantara, terselip pesan kuat mengenai pentingnya pendidikan karakter sejak usia dini.

Bunda Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Kota Balikpapan, Nurlena Rahmad Mas’ud, memanfaatkan momentum tersebut untuk mengingatkan para orang tua agar tidak lengah dalam mendampingi tumbuh kembang anak, khususnya di tengah pesatnya penggunaan teknologi digital dan gawai pada anak usia dini.

Menurut Nurlena, perkembangan teknologi memang memberikan banyak kemudahan, namun juga dapat memengaruhi pola perilaku anak apabila tidak dibarengi pengawasan dan keteladanan dari lingkungan keluarga.

“Anak-anak sekarang melihat apa yang dilakukan orang tuanya. Kalau orang tua terus bermain handphone, anak juga akan mengikuti. Karena itu, orang tua harus memberi contoh yang baik, termasuk dalam penggunaan gadget,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa pendidikan anak usia dini tidak hanya berkaitan dengan kemampuan akademik seperti membaca, menulis, dan berhitung, melainkan juga menyangkut pembentukan karakter, etika, dan kemampuan sosial anak dalam kehidupan sehari-hari.

“Di usia emas inilah anak mulai belajar mandiri, berani tampil, mengenal teman, serta membangun rasa percaya diri. Pendidikan PAUD bukan hanya soal membaca dan berhitung, tetapi juga pembentukan karakter,” katanya.

Ratusan anak yang tampil dalam kegiatan tersebut terlihat antusias membawakan tarian, lagu daerah, hingga parade busana profesi dan budaya nusantara. Penampilan itu tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga sarana pembelajaran bagi anak untuk mengenal cita-cita, budaya, dan lingkungan sosial sejak dini.

Nurlena menilai penggunaan kostum profesi seperti dokter, guru, hingga pegawai negeri sipil dapat menjadi media edukasi bagi anak apabila disertai penjelasan dari orang tua mengenai tanggung jawab dan nilai-nilai dari profesi tersebut.

“Orang tua jangan hanya memakaikan kostum kepada anak, tetapi juga menjelaskan makna profesi itu supaya anak memahami tanggung jawab dan cita-cita yang ingin diraih,” tuturnya.

Kegiatan tersebut diikuti sekitar 1.000 peserta yang terdiri atas anak didik dan orang tua. Kehadiran para wali murid yang turut mendampingi anak-anak selama acara berlangsung menunjukkan besarnya dukungan keluarga terhadap proses pendidikan usia dini.

Selain menanamkan rasa percaya diri, kegiatan bertema “Cinta Alam dan Budaya Lokal” itu juga menjadi sarana pengenalan budaya daerah dan kepedulian terhadap lingkungan kepada anak-anak sejak dini.

Dalam kesempatan tersebut, Nurlena juga menyampaikan dukungannya terhadap program wajib belajar 13 tahun yang memasukkan pendidikan pra-sekolah dasar (pra-SD) sebagai bagian penting dalam sistem pendidikan. Pemerintah Kota Balikpapan, lanjutnya, saat ini tengah memperkuat program pra-SD selama satu tahun untuk membantu kesiapan anak sebelum memasuki jenjang sekolah dasar.

Ia menjelaskan bahwa penerapan kebijakan kewajiban pendidikan PAUD akan dilakukan secara bertahap sesuai Peraturan Wali Kota Balikpapan Nomor 24 Tahun 2025. Meski demikian, pada tahun ajaran 2025/2026 pemerintah masih memberikan toleransi bagi calon siswa SD yang belum memiliki ijazah PAUD.

Nurlena berharap pendidikan karakter yang dimulai dari rumah dapat terus diperkuat agar anak-anak Balikpapan tumbuh menjadi generasi yang cerdas, berakhlak, serta memiliki kepedulian terhadap budaya dan lingkungan sekitar.

“Percuma anak pintar kalau tidak memiliki etika dan sopan santun. Pendidikan karakter harus dimulai dari rumah agar anak-anak kita tumbuh menjadi generasi yang cerdas dan berakhlak baik,” pungkasnya. (mang/Adv Diskominfo Balikpapan)

Share

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *