
Samarinda, Kaltimedia.com – Perkembangan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence yang kian pesat memicu kekhawatiran global terkait masa depan pekerjaan manusia.
Sejumlah pakar teknologi, termasuk Geoffrey Hinton yang dikenal sebagai “Godfather of AI”, menilai bahwa teknologi ini berpotensi menggantikan peran manusia di berbagai sektor dalam waktu dekat.
Dalam wawancara dengan CNN pada akhir 2025, Hinton menyebut bahwa tahun 2026 menjadi titik awal di mana AI mulai menunjukkan kemampuan nyata dalam mengambil alih sejumlah pekerjaan.
“AI akan menjadi jauh lebih hebat dan mulai memiliki kemampuan untuk menggantikan peran manusia di berbagai sektor,” ujarnya.
Disamakan dengan Revolusi Industri
Hinton membandingkan perkembangan AI dengan Revolusi Industri yang mengubah peran tenaga manusia secara fundamental.
Jika revolusi industri membuat kekuatan fisik manusia menjadi kurang relevan, maka AI dinilai berpotensi menggeser relevansi kecerdasan manusia dalam dunia kerja modern.
40 Profesi Paling Rentan Terdampak AI
Laporan Microsoft pada 2025 mengidentifikasi 40 profesi dengan tingkat keterkaitan tinggi terhadap kemampuan AI, khususnya berbasis model bahasa besar (LLM).
Profesi-profesi ini dinilai paling berisiko terdampak karena banyak tugasnya dapat diotomatisasi oleh AI, terutama yang berkaitan dengan penulisan, analisis, dan komunikasi.
Beberapa di antaranya:
- Penerjemah dan juru bahasa
- Penulis dan editor
- Jurnalis dan reporter
- Ilmuwan politik
- Ahli matematika
- Analis manajemen
- Web developer
- Customer service
- Analis riset pasar
- Penasihat keuangan
Secara umum, pekerjaan berbasis pengetahuan (knowledge-based jobs) menjadi yang paling rentan.
Bukan Menggantikan, Tapi Mengubah Cara Kerja
Meski demikian, peneliti senior Microsoft, Kiran Tomlinson, menegaskan bahwa AI tidak serta-merta menggantikan pekerjaan secara utuh.
AI lebih berperan sebagai alat yang mendukung dan mengubah cara kerja manusia.
“AI mendukung banyak tugas, terutama penelitian, penulisan, dan komunikasi, tetapi tidak sepenuhnya mengambil alih satu pekerjaan,” ujarnya.
Dampak Lebih Luas Masih Akan Berkembang
Penelitian tersebut juga menekankan bahwa dampak AI tidak terbatas pada teknologi generatif saja. Otomatisasi di sektor lain—seperti transportasi dan manufaktur—juga akan terus berkembang.
Artinya, perubahan dunia kerja akibat AI masih akan berlangsung dalam jangka panjang dan memerlukan adaptasi dari tenaga kerja.
Kesimpulan: Adaptasi Jadi Kunci
Perkembangan AI membawa tantangan sekaligus peluang. Profesi yang tidak beradaptasi berisiko terdampak, sementara mereka yang mampu memanfaatkan teknologi justru berpotensi meningkatkan produktivitas.
Transformasi ini menegaskan satu hal: masa depan pekerjaan bukan hanya tentang bertahan dari AI, tetapi bagaimana bekerja bersama AI. (Ang)





