Gelombang Protes Anti-Perang Muncul di Israel dan Eropa, Tuntut Konflik Iran Dihentikan

Gambar saat ini: Foto: Imbas perang, sebuah kota hancur akibat serangan rudal. Sumber: Istimewa.
Foto: Imbas perang, sebuah kota hancur akibat serangan rudal. Sumber: Istimewa.

Tel Aviv, Kaltimedia.com — Gelombang aksi protes menolak perang antara Iran dan Israel mulai bermunculan di sejumlah wilayah, termasuk di dalam negeri Israel sendiri.

Pada 21 Maret 2026, kelompok demonstran anti-perang turun ke jalan di beberapa kota seperti Tel Aviv, Haifa, dan Beersheba. Mereka menyerukan penghentian konflik yang dinilai telah membawa dampak kemanusiaan luas.

Selain menuntut gencatan senjata, massa juga mendesak Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu untuk diadili di Mahkamah Internasional.

Aksi terpusat di Habima Square, di mana para demonstran melakukan aksi simbolik dengan mengangkat tangan yang dicat merah menyerupai darah sebagai bentuk protes terhadap kekerasan.

Partai politik Hadash menyebut ratusan orang terlibat dalam aksi tersebut. Mereka menilai perang yang telah berlangsung selama tiga pekan hanya menimbulkan kehancuran dan penderitaan.

“Tiga minggu perang, kehancuran, dan penderitaan telah berlalu, dan akhir perang belum terlihat. Pemerintah mengeksploitasi perang untuk memperdalam kebijakan perang tanpa akhir, memperkuat pendudukan, dan merusak demokrasi,” bunyi pernyataan Hadash.

Ketua partai tersebut, Ayman Odeh, menegaskan bahwa perang bukan solusi dan mengapresiasi keberanian warga yang tetap menyuarakan aspirasi di tengah situasi sulit.

“Perang bukanlah solusi, dan tidak pernah menjadi solusi, dan tidak akan pernah menjadi solusi. Saya bangga menjadi salah satu dari ratusan warga pemberani yang turun ke jalan untuk berdemonstrasi hari ini, meskipun hujan, meskipun perang, meskipun pembungkaman, dan meskipun penganiayaan politik,” tulisnya.

Dalam aksi tersebut, sejumlah demonstran juga membawa spanduk bertuliskan tuntutan agar Netanyahu diadili di Den Haag.

“Ekstradisi Netanyahu ke Den Haag,” bunyi salah satu spanduk.

Gelombang protes juga meluas ke berbagai negara di Eropa. Di London, ribuan demonstran turun ke jalan, melakukan long march dari Russell Square menuju Whitehall.

Mereka membawa berbagai spanduk dan menyerukan penghentian serangan militer serta menolak intervensi asing di kawasan Timur Tengah.

“Tidak ada intervensi asing. Jauhkan tangan dari Timur Tengah dan hentikan pengeboman. Orang-orang berhak untuk hidup dalam damai. Anda tidak bisa membom orang untuk mencapai demokrasi,” seru para demonstran.

Aksi serupa juga berlangsung di Madrid, Lisbon, dan Sofia. Ribuan peserta menyuarakan penolakan terhadap perang serta mendesak perubahan kebijakan luar negeri negara-negara Barat.

Selain itu, protes juga tercatat terjadi di sejumlah negara lain seperti Prancis dan Yunani, menandakan kekhawatiran global terhadap eskalasi konflik yang kian meluas.

Situasi ini menunjukkan meningkatnya tekanan publik internasional terhadap pihak-pihak yang terlibat konflik, seiring dampak perang yang tidak hanya dirasakan di kawasan Timur Tengah, tetapi juga berimbas pada stabilitas global. (Ang)

Share

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *