Menkes: 700 Ribu Anak Indonesia Alami Gejala Cemas dan Depresi

Gambar saat ini: Foto: Sekelompok anak-anak sekolah berpose di depan kelas. Sumber: Istimewa.
Foto: Sekelompok anak-anak sekolah berpose di depan kelas. Sumber: Istimewa.

Jakarta, Kaltimedia.com — Ancaman gangguan kesehatan mental pada anak menjadi perhatian serius pemerintah. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin mengungkapkan hampir 700 ribu anak di Indonesia menunjukkan gejala kecemasan dan depresi berdasarkan hasil Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) periode 2025–2026.

Temuan tersebut menjadi alarm bagi masa depan generasi muda Indonesia, yang diharapkan menjadi pilar dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045.

Dilansir dari Tirto.id, Menurut Budi, program CKG yang menyasar sekitar 7 juta anak menunjukkan bahwa 4,4 persen atau sekitar 338 ribu anak mengalami gejala kecemasan (anxiety disorder). Sementara itu, 4,8 persen atau sekitar 363 ribu anak menunjukkan gejala depresi.

“Ini menunjukkan bahwa masalah kesehatan jiwa pada anak sangat besar,” ujar Budi di Jakarta, Senin (9/3/2026).

Tren masalah kesehatan mental pada anak meningkat

Kekhawatiran terhadap kesehatan mental anak sebenarnya telah muncul dalam berbagai survei sebelumnya.

Survei Nasional Pengalaman Hidup Anak dan Remaja (SNPHAR) 2024 mencatat sekitar 7,28 persen anak mengalami masalah kesehatan mental. Dari jumlah tersebut, 62,19 persen di antaranya juga mengalami kekerasan fisik, emosional, atau seksual dalam 12 bulan terakhir.

Sementara itu, hasil Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) 2022 menunjukkan bahwa satu dari tiga remaja di Indonesia atau sekitar 34,9 persen mengalami masalah kesehatan mental dalam kurun waktu satu tahun.

Sekitar 5,5 persen remaja bahkan memenuhi kriteria gangguan mental, yang setara dengan sekitar 2 juta remaja di Indonesia.

Risiko bunuh diri menjadi perhatian serius

Budi juga menyoroti peningkatan kasus percobaan bunuh diri pada anak dan remaja.

Data Global School-Based Student Health Survey menunjukkan tren kenaikan anak yang mencoba bunuh diri dari 3,9 persen pada 2015 menjadi 10,7 persen pada 2023.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia atau Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat sepanjang 2023 terdapat 46 kasus bunuh diri pada anak dan remaja usia 10–17 tahun.

Pada 2024 terdapat 43 kasus, dan pada 2025 tercatat 27 kasus. Secara keseluruhan, selama periode 2023–2025 terdapat 116 kasus bunuh diri anak.

Data kepolisian juga menunjukkan tren serupa. Dalam dua tahun terakhir, kasus bunuh diri pada anak usia 0–15 tahun meningkat dari 604 kasus pada 2022 menjadi 1.498 kasus pada 2024.

Konflik keluarga hingga perundungan jadi pemicu

Budi menjelaskan gangguan kesehatan mental pada anak tidak hanya dipengaruhi faktor individu, tetapi juga lingkungan keluarga, pertemanan, serta sistem pendidikan.

Berdasarkan data dari KPAI dan platform kesehatan mental nasional, terdapat beberapa faktor utama yang memicu keinginan bunuh diri pada anak.

Faktor tersebut antara lain konflik keluarga (24–46 persen), masalah psikologis (8–26 persen), perundungan atau bullying (14–18 persen), serta tekanan akademik (7–16 persen).

“Yang perlu diperbaiki bukan hanya anaknya, tetapi juga pola asuh keluarga serta lingkungan belajar,” kata Budi.

Ia menekankan pentingnya penguatan keterampilan hidup (life skills) serta konsep Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis (P3LP) untuk membantu anak menghadapi tekanan.

Generasi Alpha lebih rentan tekanan psikologis

Manajer Center for Public Mental Health (CPMH) dari Universitas Gadjah Mada, Nurul Kusuma Hidayati, menilai anak-anak dari generasi Alpha memiliki karakteristik yang membuat mereka lebih rentan terhadap tekanan mental.

Generasi ini tumbuh dalam paparan teknologi digital sejak kecil serta hidup di tengah banjir informasi dan interaksi di dunia maya.

“Mereka berisiko lebih dini mengalami kelelahan emosional, sementara kemampuan pengelolaan pikirannya belum matang,” jelas Nurul.

Pandangan serupa disampaikan dosen kesehatan masyarakat dari Universitas Airlangga, Eny Qurniyawati.

Menurutnya, media sosial juga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi kondisi psikologis remaja.

“Tekanan sosial dari lingkungan digital seperti perbandingan diri dan validasi sosial melalui likes atau followers turut memperburuk kondisi mental remaja,” ujarnya.

Keluarga dan sekolah jadi garda terdepan

Para ahli menilai keluarga dan sekolah memiliki peran penting dalam mencegah depresi pada anak.

Selain meningkatkan literasi kesehatan mental, orang tua juga perlu membangun komunikasi yang terbuka dan suportif dengan anak.

Di sisi lain, sekolah diharapkan dapat mengembangkan sistem kesehatan mental berbasis sekolah atau school-based mental health system yang berfokus pada pencegahan dan deteksi dini.

Sekolah juga diharapkan menyediakan akses konselor atau psikolog serta melatih guru untuk mengenali perubahan perilaku siswa.

Langkah ini dinilai penting agar anak merasa aman di lingkungan belajar dan terhindar dari tekanan sosial maupun perundungan.

Dukungan keluarga masih jadi pilihan utama

Meski layanan kesehatan mental semakin tersedia, banyak remaja di Indonesia masih memilih mencari dukungan dari lingkungan terdekat.

Data I-NAMHS menunjukkan hanya 2,9 persen remaja dengan masalah kesehatan mental yang mengakses layanan psikiater.

Sebaliknya, sebagian besar lebih memilih bercerita kepada keluarga, teman dekat, atau guru di sekolah.

Hal ini menunjukkan pentingnya peran keluarga dan lingkungan sosial sebagai tempat pertama bagi anak untuk mencari dukungan ketika menghadapi tekanan psikologis. (Ang)

Share

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *