
London, Kaltimedia.com – Lagi-lagi Arsenal. Bayang-bayang kegagalan musim-musim sebelumnya masih membuntuti armada Meriam London dalam misi menuju takhta juara Premier League.
Sudah tiga musim beruntun Arsenal finis sebagai runner-up. Tim asuhan Mikel Arteta harus puas melihat rival mengangkat trofi, sementara mereka kembali menelan kekecewaan.
Kini, untuk musim keempat berturut-turut, Arsenal kembali berada di jalur perburuan gelar. Mereka memimpin klasemen sementara dengan 58 poin. Namun, status “sementara” itulah yang menjadi alarm bahaya
Mengingat Musim Invincibles
Arsenal pernah berada dalam situasi penuh tekanan serupa. Pada musim 2003/2004, mereka hanya unggul tipis dari Manchester United di paruh musim, dengan Chelsea mengintai di bawahnya.
Akhirnya, gelar mendarat di Highbury. Arsenal menorehkan sejarah sebagai “Invincibles”, tak terkalahkan sepanjang musim—sebuah pencapaian yang belum terulang hingga kini.
Namun musim ini jelas berbeda. Arsenal sudah menelan tiga kekalahan, membuat label Invincibles mustahil dipertahankan. Dua hasil imbang beruntun juga membuat jarak dengan Manchester City semakin menipis.
Ancaman dari Pesaing
Arsenal (58 poin) kini dibayangi Manchester City (53) dan Aston Villa (50). Lebih mengkhawatirkan lagi, City dan Villa masih memiliki jumlah pertandingan lebih sedikit.
Jika terpeleset lagi, tekanan psikologis musim-musim sebelumnya bisa kembali menghantui.
Masalah klasik Arsenal pun muncul kembali: inkonsistensi di putaran kedua. Dalam tiga musim terakhir, fase ini selalu menjadi titik lemah mereka.
Badai Cedera dan Rotasi Taktik
Cedera kembali menjadi momok. Beberapa pemain seperti Max Dowman, Mikel Merino, Kai Havertz, dan Martin Odegaard harus menepi.
Situasi ini memaksa Arteta mengubah pakem. Salah satu keputusan mencolok adalah menempatkan Bukayo Saka lebih ke tengah, meski posisi alaminya adalah winger.
Padahal Arsenal telah mendatangkan Eberechi Eze dari Crystal Palace dengan nilai transfer besar. Namun, dari 22 penampilan, lebih dari separuhnya ia memulai laga dari bangku cadangan.
Data menunjukkan hanya David Raya dan Martin Zubimendi yang konsisten tampil tanpa absen musim ini. Stabilitas skuad menjadi tantangan nyata.
Harapan pada Gyokeres
Di tengah situasi sulit, Viktor Gyökeres mulai menunjukkan peningkatan performa. Setelah hanya mencetak lima gol di paruh pertama musim, ia menambah tiga gol dalam sebulan terakhir dan kini menjadi top skor tim dengan delapan gol.
Produktivitasnya memang belum eksplosif, namun perannya tetap vital dalam menjaga asa Arsenal.
Ujian Sesungguhnya: Derby London Utara
Laga kontra Tottenham Hotspur pada Minggu (22/2) menjadi ujian krusial. Derby London Utara bukan sekadar soal gengsi, tetapi juga momentum dalam perburuan gelar.
Pertanyaannya kini sederhana:
Akankah trauma musim-musim sebelumnya kembali terulang, atau Arsenal akhirnya mampu mematahkan kutukan konsistensi?
Jawabannya akan mulai terlihat dalam beberapa pekan ke depan. (Ang)



