Dewan Dorong Urban Farming, Ajak Warga Mandiri Penuhi Kebutuhan Pangan

Anggota DPRD Kota Balikpapan, Suwanto.

BALIKPAPAN – Ketika harga sayuran melonjak dan pasokan pasar sering tak menentu, sejumlah warga Balikpapan memilih langkah berbeda. Mereka tak lagi bergantung sepenuhnya pada pasokan dari luar daerah, melainkan mulai menanam kebutuhan pangan sendiri di pekarangan rumah. Gerakan kecil ini kini tumbuh menjadi semangat besar menuju kemandirian pangan kota.

Anggota DPRD Kota Balikpapan, Suwanto, melihat fenomena tersebut sebagai langkah nyata masyarakat dalam menghadapi tantangan ekonomi dan krisis pangan. Ia menilai urban farming bukan sekadar hobi, melainkan bentuk kesadaran baru yang patut didukung.

“Kita tak bisa hanya menunggu pasokan datang. Pekarangan rumah, halaman sempit, bahkan tembok bisa menjadi sumber kehidupan baru jika dikelola dengan semangat,” ujar Suwanto, Selasa (28/10/2025)

Suwanto mencontohkan Kampung Bungas di Gunungsari Ilir, yang kini menjadi inspirasi bagi wilayah lain. Di tengah permukiman padat, warga mengubah ruang terbatas menjadi kebun produktif. Pot, planter bag, dan sistem hidroponik berjajar di halaman rumah, menumbuhkan sawi, cabai, tomat, hingga kangkung yang bisa dipanen untuk kebutuhan sehari-hari.

Menurutnya, nilai utama dari urban farming tidak hanya di hasil panen, tetapi juga pada pemberdayaan dan perubahan pola pikir masyarakat.

“Gerakan ini mengajarkan kemandirian, gotong royong, dan cinta lingkungan. Dari kebun kecil, warga belajar bertanggung jawab atas kehidupannya sendiri,” jelasnya.

Suwanto berharap pemerintah dan dunia usaha tidak sekadar memberi bantuan bibit atau alat, tetapi juga mendampingi masyarakat secara berkelanjutan melalui pelatihan dan pemanfaatan data pertanian yang sesuai dengan kebutuhan pasar lokal.

“Bayangkan jika setiap rumah memiliki dua atau tiga pot produktif, maka ketahanan pangan kota ini akan jauh lebih kuat,” tambahnya.

Kini, urban farming di Balikpapan perlahan berubah menjadi gerakan sosial dan ekonomi warga. Dari halaman rumah, tumbuh semangat kemandirian dan ketahanan pangan lokal yang menjadi fondasi baru bagi masa depan kota.

“Mulailah dari halaman sendiri. Dari sebatang sayur, kita bisa menanam masa depan.” pungkasnya (*)

Share

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *