BPBD Balikpapan Imbau Warga Waspadai Potensi Longsor di Musim Hujan

Tanah longsor yang terjadi di Jalan Letjend S. Parman, Gang Puncak RT 14, Gunung Sari Ulu, pada September 2024. BPBD Kota Balikpapan imbau masyarakat waspada akan tanda-tanda pergerakan tanah. (foto ilustrasi)

KALTIMEDIA.COM, BALIKPAPAN – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Balikpapan mengimbau kepada masyarakat agar lebih waspada terhadap ancaman tanah longsor yang berpotensi meningkat seiring tingginya curah hujan beberapa pekan terakhir. Peringatan ini disampaikan menyusul meningkatnya intensitas hujan di wilayah Balikpapan sejak awal Oktober 2025, yang dapat memicu pergerakan tanah terutama di kawasan berbukit dan padat permukiman.

Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Balikpapan, Bambang Subagya, menyampaikan bahwa hujan dengan intensitas sedang hingga tinggi yang disertai angin kencang dapat memicu terjadinya longsor, khususnya di wilayah berbukit dan padat permukiman. “Kami mengimbau warga yang tinggal di daerah rawan lereng atau tebing untuk meningkatkan kewaspadaan. Curah hujan yang berlangsung lama dapat membuat tanah menjadi jenuh air dan rentan bergerak,” ujarnya, Selasa (21/10/2025).

Menurut Bambang, berdasarkan peta rawan bencana BPBD, sejumlah wilayah seperti Muara Rapak, Gunung Samarinda, Baru Ilir, Prapatan, dan Karang Jati termasuk dalam zona dengan tingkat kerentanan tinggi terhadap longsor. “Daerah-daerah tersebut bukan berarti pasti mengalami longsor, namun potensi bahayanya lebih besar. Oleh karena itu, masyarakat perlu lebih tanggap dalam melakukan pencegahan,” jelasnya.

Ia menambahkan, tanda-tanda awal potensi longsor sebenarnya bisa dikenali sejak dini. Beberapa indikatornya antara lain munculnya retakan pada tanah atau dinding rumah, pintu yang sulit dibuka atau ditutup, tembok retak, serta pohon atau tiang listrik yang mulai miring. “Begitu melihat tanda-tanda seperti itu, segera laporkan kepada BPBD atau perangkat kelurahan agar dapat dilakukan pemeriksaan lapangan,” tegas Bambang.

BPBD juga mengingatkan masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas yang dapat memperparah kondisi tanah, seperti menggali di kaki lereng, menebang pohon penahan air, atau menambah beban di atas tebing. Vegetasi alami, lanjut Bambang, berperan penting dalam menjaga kestabilan struktur tanah. “Sering kali longsor dipicu oleh aktivitas manusia, misalnya karena penggalian untuk pembangunan baru atau pembuangan air limbah ke area tebing. Hal semacam ini sebaiknya dihindari,” katanya.

Sebagai langkah kesiapsiagaan, BPBD Balikpapan telah menyiagakan Tim Reaksi Cepat (TRC) di seluruh kecamatan. Tim ini dilengkapi dengan peralatan evakuasi serta alat berat yang siap digerakkan kapan pun diperlukan. Selain itu, BPBD juga terus berkoordinasi dengan BMKG, Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Perumahan dan Permukiman, serta aparat kelurahan untuk memantau titik-titik rawan bencana.

“Kami melakukan patroli rutin dan memberi tanda peringatan di lokasi yang berpotensi longsor. Sosialisasi kepada warga juga terus dilakukan agar mereka memahami langkah-langkah antisipasi,” tambah Bambang.

Ia menekankan bahwa kesiapsiagaan masyarakat menjadi faktor utama dalam menekan risiko bencana. Warga diimbau untuk menjaga lingkungan dengan memperbaiki saluran air, tidak menumpuk sampah di drainase, dan saling mengingatkan antarwarga. “Gotong royong menjadi kunci utama. BPBD siap membantu kapan pun, namun pencegahan paling efektif dimulai dari lingkungan masing-masing,” ujarnya.

Bambang juga mengingatkan agar masyarakat selalu memperbarui informasi cuaca melalui BMKG dan mengikuti arahan resmi dari pemerintah. “Kami ingin seluruh warga Balikpapan tetap aman dan tenang. Tidak perlu panik, yang penting selalu waspada dan siap menghadapi kemungkinan cuaca ekstrem,” pungkasnya. (mang)

Share

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *