
Balikpapan, Kaltimedia.com – Lonjakan kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di Indonesia menjadi perhatian serius Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Arifatul Choiri Fauzi.
Dalam peresmian Ruang Bersama Indonesia (RBI) di Balikpapan, Jumat (29/8/2025), Arifatul mengungkapkan berdasarkan data SIMFONI PPA, hingga 24 Agustus 2025 tercatat 19.535 kasus kekerasan. Angka ini naik drastis dari 11 ribu kasus per Juni, dengan tambahan sekitar 7.500 laporan baru hanya dalam dua bulan.
“Ini angka yang sangat tinggi, dan yang muncul baru fenomena gunung es. Masih banyak korban yang belum berani melapor,” ujarnya.
Menurut Kementerian PPPA, terdapat lima faktor utama penyebab maraknya kekerasan:
1. Ekonomi – korban enggan melawan karena ketergantungan finansial.
2. Pola asuh – perubahan gaya pengasuhan dan penggunaan gadget berlebihan merenggangkan ikatan anak-orang tua.
3. Lingkungan – anak salah memilih pergaulan. Survei Forum Anak Daerah Semarang menunjukkan 80% anak lebih memilih curhat ke teman dibanding orang tua.
4. Pernikahan usia anak – masih terjadi di sejumlah daerah, menimbulkan kerentanan ganda.
5. Kurangnya ruang aman – masih minim wadah yang memungkinkan perempuan dan anak berani bersuara.
Arifatul mengingatkan orang tua agar tidak menyerahkan sepenuhnya pengasuhan pada gawai. Ia mencontohkan, pelukan sederhana jauh lebih bermakna dibanding memberikan gadget saat anak rewel.
“Ketika anak menangis, yang mereka butuhkan bukan hiburan digital, tapi hati dan perhatian orang tua. Kalau kesempatan ini hilang, jangan heran bila hubungan emosional makin renggang,” jelasnya.
Ia menegaskan, upaya pencegahan kekerasan harus dimulai dari desa, keluarga, dan komunitas, bukan hanya mengandalkan kebijakan pusat.
“Bangsa yang kuat lahir dari keluarga yang bebas kekerasan, desa yang menumbuhkan kesetaraan, dan masyarakat yang mendengar suara anak-anaknya,” tegasnya.
Dengan hadirnya RBI, Arifatul berharap Balikpapan menjadi pionir ruang kolaborasi yang memperkuat perlindungan bagi perempuan dan anak menuju Indonesia Emas 2045. (Pcm)
Editor: Ang





