
Samarinda – Tugu Pesut di Simpang Empat Lembuswana kembali menjadi perbincangan hangat di media sosial.
Warganet mempertanyakan nilai estetika dan besarnya anggaran yang digunakan mencapai 1,1 miliar, apalagi setelah dilakukan pengecatan ulang beberapa hari lalu. Tagar dan komentar kritis bermunculan, menyoroti apakah bentuk dan biaya tugu itu layak.
Namun, di tengah kritik yang meluas, Ketua Komisi III DPRD Samarinda, Deni Hakim Anwar menilai perdebatan ini sebaiknya tidak hanya dilihat dari sudut pandang biaya atau bentuk visual semata.
Menurutnya bahwa karya seni di ruang publik seperti Tugu Pesut harus dipahami sebagai bagian dari strategi membentuk citra dan identitas visual kota.
“Kalau kita hanya menilai dari harga dan kemiripan bentuk, kita kehilangan esensi dari nilai seni itu sendiri. Seni di ruang publik tidak hanya soal estetika, tapi juga soal makna, karakter, dan citra kota yang ingin dibentuk,” ujar Deni, pada Sabtu (17/5/2025).
Ia menjelaskan bahwa desain Tugu Pesut memang tidak dirancang menyerupai bentuk fisik pesut secara realistis. Konsep yang digunakan adalah siluet modern, yang menurutnya lazim dalam desain urban di kota-kota besar dunia.
Meski demikian, kritik warga soal besarnya anggaran dan bentuk tugu tidak bisa diabaikan. Deni menyadari perlunya komunikasi yang lebih terbuka antara pemerintah dan masyarakat agar tidak terjadi salah tafsir terhadap proyek-proyek semacam ini.
“Transparansi anggaran dan penjelasan artistik kepada publik sangat penting, supaya masyarakat merasa dilibatkan dan paham arah pembangunan kota mereka,” tegasnya.
Deni juga meminta agar Tugu Pesut tidak dilihat sebagai penghambur dana, melainkan sebagai simbol transisi Samarinda menuju kota berkelas metropolitan.
“Tugu Pesut ini adalah representasi dari arah pembangunan Samarinda hari ini kota yang tidak hanya berkembang secara fisik, tapi juga secara budaya dan visual,” pungkasnya. (Adv/Df)





