Menggunakan Air Hujan untuk Pengairan, DPRD Penajam Paser Utara Sarankan Pemerintah Membangun Bendungan

Bendungan Sepaku Semoi, di Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur. ist

PENAJAM – Padi menjadi salah satu komoditas pertanian utama di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU). Bahkan produksi padi diklaim mengalami kenaikan tiap tahun. Namun, permasalahan muncul yakni terbatasnya sumber air untuk pengairan.

Karena selama ini para petani masih masih mengandalkan air dari hujan atau sebagian besar lahan di Babulu masih lahan tadah hujan.

Padahal bila pengairan mereka bagus, maka ia yakin musim tanam bisa dilakukan selama 2-3 tiga kali dalam setahun.

“Sekarang saja sudah ada petani yang bisa tanam 2 kali setahun tapi tidak merata. Kalau pengairan ini bagus, mungkin rata-rata bisa 2 kali setahun bahwa 3 kali bisa tanam dalam setahun,” kata Anggota DPRD Penajam Paser Utara (PPU) Dapil Babulu-Waru, Roman Rading.

Untuk masalah pengairan ini, politisi PKS ini mengatakan bisa dilakukan dengan membangun bendungan yang pernah direncanakan pemerintah pusat.

“Solusinya adalah membangun bendungan atau cara lain agar ketersediaan air bagi petani cukup untuk lahan mereka,” katanya.

Meskipun begitu, produksi padi para petani rata-rata naik menjadi 80 karung atau sekitar 6 hingga 7 ton per hektare. Bahkan dari lahan seluas tujuh hingga delapan hekater mampu memproduksi hingga 100 karung

“Malah ada yang mencapai 100 karung. Kalau dihitung-hitung ya sekitar 7-8 ton per hektare. Ini sangat luar biasa meningkatannya,” jelasnya.

Selama ini produksi hasil pertanian khususnya padi di Kecamatan Babulu terus mengalami peningkatan.

Peningkatan ini terlihat saat para petani melakukan panen padi beberapa waktu lalu.

Dia mengatakan bahwa petani di Babulu memang kurang kompak dalam melakukan tanam padi. Kurang kompaknya ini dikarenakan masalah pengairan yang kurang merata.

“Padahal lahan pertanian di Babulu ini kan cukup menjanjikan tapi karena masih terkendala pengairan itu. Makanya perlu ada solusi agar produksi ini tetap bisa meningkat dan musim tanam bisa sampai 3 kali setahun,” katanya.

Selain itu, para petani di Babulu juga melakukan tanam palawija setelah tanam padi.

Hal ini membuat para petani memiliki penghasilan lain dari menjual padi hasil pertanian mereka. (advertorial/pry)

Share

You may also like...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *