
SAMARINDA – Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda menggelar silahturahmi bersama kalangan media, pada Senin (13/6/2022) sore di Anjungan Karamumus, komplek Balai Kota.
Dalam kesempatan itu, turut hadir organisasi profesi yaitu Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kaltim, Aliansi Jurnalis Independen (AJI), serta beberapa pengurus organisasi dan perusahaan media online yang ada di Kota Samarinda.
Kegiatan ini sendiri digelar oleh Diskominfo kota Samarinda, dan selain ajang silahturahmi juga berisi klarifikasi mengenai beberapa isu yang berkembang di media belakangan ini. Diantaranya soal tuduhan bahwa Wali Kota Samarinda Andi Harun mengekang kebebasan pers dan membungkam bahkan menyerang (mengintimidasi) jurnalis.
Menyikapi hal tersebut, Andi Harun menjelaskan bahwa beberapa tuduhan yang dialamatkan kepadanya adalah berlebihan. Ia menjelaskan beberapa hal yang sempat membuat kesalahfahaman antara dirinya dengan oknum jurnalis yang berujung pada terjadinya hubungan yang sedikit memanas.

Bahkan Andi Harun berkomitmen dalam mendukung kebebasan pers.
“Saya tidak pernah membungkam media. Bahkan sejak masih menjadi anggota dewan, saya selalu terbuka kepada semua jurnalis yang ingin menggali berita. Tidak pernah ada wartawan yang saya tolak jika ingin mewawancarai,” ungkapnya.
Andi Harun pun berharap kedepan bisa terus bersinergi dengan rekan media. Politisi Gerindra ini juga meminta rekan media untuk lebih objektif dalam memberitakan sesuatu agar nantinya tidak menimbulkan persepsi negatif dan penggiringan opini yang tidak tepat.
“Disni kan sekaligus tabayun serta meluruskan yang ramai kemarin. Sama-sama menganut asas objektif. Saya sebagai Wali Kota kan tidak boleh memberikan keterangan bohong. Teman jurnalis juga jangan memberi informasi yang tidak objektif,” ungkapnya.
Sementara itu Ketua Dewan Kehormatan PWI Kaltim, Intoniswan memberikan masukan yaitu menyarankan Wali Kota untuk sedikit mengurangi penyampaian informasi “door stop”, karena rentan menimbulkan kesalahan persepsi.
“Bahkan kalau perlu pak Wali menolak wawancara door stop kalau merasa tidak nyaman dengan pertanyaan wartawan,” ucap Intoniswan.
Senada dengan hal itu, Ketua PWI Kaltim, Endro S Efendi mengatakan narasumber berhak untuk menolak diwawancarai bila merasa tidak nyaman dengan pertanyaan wartawan.
“Berhak menolak, jika tidak nyaman, apalagi bila si wartawan tidak memiliki kompetensi,” katanya.
Diakhir, disepakati silahturahmi akan terus dilakukan melalui forum-forum diskusi semacam coffee morning kedepannya. (ar)



