
Wakil Wali Kota Balikpapan, Bagus Susetyo
BALIKPAPAN – Wakil Wali Kota Balikpapan, Bagus Susetyo memberikan tanggapan terkait insiden tenggelamnya enam anak di kubangan wilayah kilometer 8, Balikpapan Utara. Bagus menegaskan, Pemerintah Kota (Pemkot) Balikpapan langsung bertindak cepat.
Pasca kejadian, Pemkot meminta BPBD dan pihak terkait memasang pembatas sementara serta memperkuat imbauan keselamatan.
Bagus juga menekankan pentingnya pengawasan keluarga, terutama karena lokasi kubangan berada cukup jauh dari pemukiman warga.
“Awalnya saya kira dekat. Ternyata jauh. Karena itu pengawasan orang tua sangat penting,” tuturnya.
Untuk kawasan perumahan berskala besar yang memiliki genangan atau danau buatan, Pemkot meminta pengembang menambah pagar, barikade, dan papan larangan. Ada tiga danau kecil di area pengawasan Sinarmas yang diminta untuk memperketat keamanan.
Bagus mengakui Pemkot memiliki keterbatasan menegur pemilik lahan, karena kubangan berada di tanah perorangan yang tidak terdaftar sebagai kawasan perumahan.
“Kalau pemiliknya perorangan dan tidak ada izin perumahan, kami mau menegur siapa? Itu jadi kendala,” katanya.
Ia menegaskan, kejadian ini menjadi pengingat penting agar pengawasan lingkungan diperkuat oleh seluruh elemen, mulai dari camat, lurah, RT, hingga warga.
“Ini musibah. Tidak bisa direncanakan. Tapi pengawasan wilayah harus jadi perhatian,” tegasnya.
Pemkot juga meminta pemantauan berkala terhadap titik rawan seperti kubangan besar, area longsor, dan lokasi bermain anak yang berpotensi membahayakan masyarakat.
Bagus Susetyo, menegaskan bahwa genangan air tersebut bukan danau buatan maupun bagian dari proyek pengembang, melainkan kubangan yang terbentuk karena kesalahan penataan lahan bertahun-tahun lalu.
Bagus menjelaskan bahwa area tersebut dulunya merupakan dataran rendah yang dikavling untuk dijual. Di sekelilingnya dibuat jalan dengan elevasi lebih tinggi, namun tanpa saluran pembuangan menuju sungai.
Kondisi itu menyebabkan air hujan terus menggenang dan akhirnya berubah menjadi kubangan menyerupai danau.
“Itu bukan danau. Itu tanah yang dikavling, lalu dikelilingi jalan. Karena tidak ada sudetan, airnya menggenang bertahun-tahun. Banyak juga yang memancing di situ,” ujarnya.
Bagus juga meluruskan kabar yang menyebut kubangan berada dalam kawasan pengembang Sinarmas. Ia memastikan tanah tersebut milik perorangan.
Upaya penjualan lahan kepada Sinarmas sempat terjadi, namun tidak ada kesepakatan harga.
Meski bukan bagian dari perumahan, Bagus mengakui sekuriti Sinarmas kerap mengawasi area sekitar sehingga menimbulkan persepsi keliru di masyarakat. Informasi serupa juga diterima BPBD saat melakukan pengecekan. (adv/pry)





