
Samarinda, Kaltimedia.com – Malam dingin di San Siro berubah menjadi suasana tegang bagi AC Milan. Ribuan tifosi yang datang dengan keyakinan akan kemenangan pulang dengan perasaan bercampur: lega karena tak kalah, tapi kecewa karena hanya bermain imbang 2-2 melawan Pisa, tim promosi yang datang tanpa beban.Sejak menit awal, Milan tampil menggigit. Gol cepat Rafael Leao pada menit ketujuh membuat stadion bergemuruh dan seolah memberi sinyal dominasi mutlak.
Namun, setelah babak pertama penuh tekanan tak menghasilkan tambahan gol, situasi berubah. Pisa bangkit dengan determinasi mengejutkan di babak kedua. Penalti Juan Cuadrado menyamakan kedudukan, sebelum M’Bala Nzola membuat kejutan besar di menit ke-86. San Siro lumpuh dalam diam, hingga akhirnya Zachary Athekame mencetak gol penyama di masa injury time yang menyelamatkan Rossoneri dari kekalahan memalukan.
Di tengah sorotan itu, satu sosok menjadi simbol kekecewaan: Luka Modric. Dengan ekspresi datar namun tatapan kosong, gelandang asal Kroasia itu meninggalkan lapangan tanpa banyak bicara.
“Kami seharusnya menghabisi mereka di babak pertama. Kami main bagus, tapi cuma mencetak satu gol. Kami kehilangan dua poin penting. Pertandingan seperti ini, dengan segala hormat bagi Pisa, seharusnya kami menangkan,” ujarnya, seperti dikutip Football Italia.
Bagi Modric, yang kini menjadi figur pemimpin di ruang ganti Milan, hasil seperti ini terasa lebih dari sekadar kekhilafan taktis. Ia datang ke Milan membawa reputasi juara dunia, ketenangan, dan mentalitas kemenangan.
Namun, malam itu memperlihatkan tantangan sesungguhnya, mengubah kerja keras menjadi hasil konkret. “Kami sedih dan marah karena menyia-nyiakan peluang besar,” katanya pada DAZN.
Pelatih Massimiliano Allegri tak jauh berbeda dalam reaksinya. Ia mengaku frustrasi karena anak asuhnya kehilangan bentuk permainan dan kejelasan di momen-momen krusial.
“Kami terlalu lambat dalam membaca situasi dan tidak cukup efektif,” ujarnya seusai laga, menyadari bahwa hasil seri di kandang kontra tim promosi adalah kemunduran bagi pemuncak klasemen sementara.
Sementara itu, pelatih Pisa, Alberto Gilardino, mantan striker Milan, hanya mengangkat bahu seusai laga. “Saya tidak tahu apakah harus marah karena hampir menang, atau bangga karena menahan Milan di San Siro,” katanya.
Bagi Pisa, satu poin di markas raksasa Serie A terasa seperti kemenangan kecil. Hasil ini memperkecil jarak Milan di puncak klasemen. Dengan 17 poin, mereka kini hanya unggul dua dari Napoli, Inter Milan, dan AS Roma yang belum bertanding.
Para tifosi mungkin akan mengingat malam itu bukan untuk hasilnya, tetapi untuk satu hal yang menonjol: frustrasi seorang juara sejati bernama Luka Modric, yang menolak menua, tetapi tidak bisa menolak rasa kecewa. (AS)
Sumber: (sport.detik.com)



